Thursday, 3 August 2017

Keluar dari Zona Nyaman is Bullshit

Share it Please




Sering banget gue denger dan baca motivasi yang mengatakan bahwa kita harus keluar dari zona nyaman. Kalo kita terus-terusan berada di zona nyaman, kita enggak akan ada kemajuan. Hidup kita stuck, gitu-gitu ajah. Enggak lulus-lulus kuliah, nganggur terus, jomblo teruss. #eh

Awalnya gue berfikir ini betul banget. Orang yang hidup gitu-gitu aja dan taraf penghasilannya gitu-gitu aja harus disugesti untuk berani keluar dari zona nyaman agar mencapai taraf hidup yang lebih tinggi. Namun belakangan gue mikir, pepatah itu enggak sepenuhnya benar. Justru yang membuat seseorang mau keluar dari zonanya bukan karna mau keluar dari zona nyamannya. Tapi zona nyamannya itu berubah menjadi enggak nyaman, dan membuat dia ingin keluar mencari zona yang lebih nyaman.

Soalnya ngapain gitu orang mau pindah kalau dia udah nyaman di situ. Gue ajah udah nyaman sama dia enggak pernah mau ke yang lain. Eh tapi malah dianya yang balikan sama mantannya. Dan ngilang entah kemana. Tuh malah gue curhat begini. Maaf terbawa suasana.

Supaya lebih jelas apa yang gue maksud, gini deh.

Contohnya ada cowok bernama Jun. Nama panjangnya Junaedi. Jun punya bisnis cilok terbesar di daerah Cirebon. Omzetnya sampai sepuluh juta perhari. Dengan omzetnya yang besar, dia bisa beli Samsung S4 tiap hari. Bisa umroh sebulan dua kali. Bisa jadi sponsor acara Inbox. Jun sangat menikmati kejayaan ini. Jun berada dalam zona nyamannya sekarang. Tanpa orang-orang tahu Jun memulai bisnisnya dengan susah payah.

Jun memulai bisnisnya dengan gerobak cilok bekas yang dipinjamkan mantan pacarnya. Nama panggilannya Pupu. Nama panjangnnya Maspuah. Si Pupu tukang jualan rongsok. Kebetulan ada gerobak bekas, terus Jun menyewanya dengan jaminan kalau sebulan Jun belum mampu membayar sewanya, Pupu mengancam akan menyebarkan foto mesum mereka berdua saat pacaran sehingga Jun malu.

Namun Jun enggak patah semangat. Dengan semangat sukses dan semangat agar foto mesumnya enggak disebar, Jun bersungguh-sungguh jualan cilok. Jun terus berinovasi dengan ciloknnya. Dimulai dengan melabeli ciloknya dengan nama fenomenal, yakni Cilok Drible (dibaca: cilok dribel). Kemudian Jun melanjutkan dengan berinovasi membuat cilok rasa kaldu ayam, kemudian berkembang menjadi rasa rendang, dan terakhir menjadi rasa sayang sama mantan tapi gengsi mengakuinya.

Akhirnya Jun sukses menjadi pebisnis cilok. Tiap hari uang mengalir ke sakunya. Namun, perlahan Jun merasa jenuh. Rutinitas sehari-harinya cuma nerima duit sepuluh juta, enggak ada yang dipikirin. Padahal dia pengen gitu pusing mikirin bisnis ciloknya.

Lama-kelamaan Jun merasa enggak nyaman dengan hidup yang flat aja. Akhirnya, zona nyaman yang selama ia tinggali berubah jadi zona yang enggak nyaman. Jun mulai mencari-cari tantangan baru.

Jun memberanikan diri keluar dari zona enggak nyamannya. Dia mencari zona nyaman yang dia inginkan, yakni tantangan baru membuka gerai Cilok Drible di luar kota. Bermula dari satu gerai cilok di Bandung. Di bandung Jun punya banyak saingan. Jun terus memikirkan cara agar Cilok Drible-nya diterima masyarakaat luas. Seharian Jun ngelamun di jamban nyari inspirasi. Kepala Jun sampai pusing dan harus dikompres foto Pupus. Kenapa dikompres pake foto Pupu bukan pakai es batu? Karna sikap Pupus lebih dingin dari es batu.

Walaupun menderita, tapi inilah yang Jun inginkan. Hidupnya kini enggak flat. Dia disibukkan dengan gerai baru Cilok Drible di Bandung. Jun kini berada di zona nyamannya. Dia senang dengan tantangan.

Setelah bersusah payah, Cilok Drible akhirnya terkenal seantero Bandung. Omzet Jun naik tiga kali liat. Kini Jun bisa beli Honda CBR 250 setiap hari. Jun bisa minta beking supaya kalau ada pedagang cilok lain mengancam usaha Jun, mereka bisa diciduk dengan tuduhan mengoplos cilok atau menjual cilok murah dengan harga premium.

Contoh lainnya si Udin. Sehari-hari Udin kerja sebagai guru honorer di daerahnya. Pendapatannya ala kadarnya. Dia merasa nyaman karna kerjanya santai. Enggak ada tekanan. Dia nyaman dengan zonanya. Namun suatu saat orangtuanya membandingkan dia dengan anak tetangga.

Nyokapnya bilang, “Tuh lihat si Jun. Sukses jualan Cilok Drible padahal awalnya cuma punya gerobak rongsok. Kamu kapan bisa merantau sukses kayak dia?”

Lama kelamaan Udin merasa enggak nyaman diomongin gitu terus. Akhirnya udin memutuskan untuk pindah merantau ke luar negeri. Udin memilih pergi dari zona yang udah enggak lagi nyaman. Kini Udin ada di zona baru. Di kehidupan baru. Dia merantau ke Somalia, bergabung dengan Klub Perompak Kapal Internasional (International Pirates Club). Untuk bergabung dengan tim mereka, sangat enggak gampang. Udin diospek sampe hampir mati. Walau di kehidupannya yang baru ini Udin mendapat tekanan, setidaknya zona ini terasa lebih nyaman daripada di zonanya yang dulu harus diomongin orang tua untuk pergi merantau.

Contohnya lagi gue.

Gue dulu merasa nyaman di kehidupan lulus kuliah, pikiran bebas, enggak mikirin tugas lagi. Bisa santai-santai di rumah nonton FTV, dan kartun di Global TV sepuasnya. Bisa tidur seharian sepuasnya tanpa mikirin jadwal kuliah kayak sebelumnya. Wah, gue lega banget semenjak lulus kuliah. Gue juga dapet kerja yang jadwalnya nyantai. Enggak harus masuk setiap hari. Gajih lumayan dapet buat beli kuota.

Namun gue merasa bosan. Zona ini enggak lagi nyaman. Rutinitas gue gitu-gitu terus. Sampai suatu saat gue memutuskan utnuk mencari zona yang lebih nyaman. Gue ikutan SM-3T. Yaitu program guru yang mengajar di tempat pelosok dan terpencil Indonesia selama satu tahun. Gue nekad ikut program ini. Padahal gue belum pernah yang namanya jauh dari rumah. Tapi gue nekad. Alhamdulillah gue akhirnya berhasil lolos dan ditempatkan di Nias. Gue emang enggak pernah main jauh dari rumah, eh sekalinya main malah kejauhan sampe ke Nias.

Hidup di pedalaman Nias enggak pernah gampang. Banyak rintangan di dalamnya. Dari mulai suku dan agama penduduk yang sangat jauh beda dari yang gue punya sehingga menuntut adaptasi tinggi, sampai kondisi daerah yang tanpa listrik, jalan hancur, sinyal jelek, air susah. Namun, dibalik kesulitan ini, gue merasa nyaman. Ini lebih baik daripada tiap hari tidur di rumah, nonton FTV enggak mutu. Dibalik kesulitan ini, gue merasa inilah zona nyaman gue. Terlebih gue di sini enggak sendirian. Banyak teman-teman sesama guru SM-3T yang sama-sama tugas di sini. Gue merasa ada yang menemani. Terutama teman-teman sekamar gue ini yang sudah tidur bareng bertiga hampir lebih dari sebulan lamanya menanti penjemputan di kota, membuat gue merasa lebih nyaman.



So, sudah cukup jelas di sini, bahwa kata, “Keluarlah dari zona nyaman,” harus diganti. Justru harusnya begini, “Carilah zona ternyaman kamu!”

Mari kita tinggalkan zona enggak nyaman kita. Mari berjuang mengapai zona paling nyaman dalam hidup kita. Walaupun zona itu sulit, keras, menyakitkan, tapi harus kita ingat. Inilah zona nyaman kita. Zona yang kita harus perjuangkan. Nikmatilah sesulit dan sesakit apapun yang kita rasakan. Jangan gentar!

Oke, sekian tulisan gue kali ini. Tetap semangat, tetap ceria, tetap percaya jodoh itu pasti ada. #eh


Love you...

6 comments:

  1. Awalnya pas ada motivator gitu gue angguk2 klo kita harus keluar dari zona nyaman. Tapi itu salah menurut gue, bener kata Lo tadi, kita keluar dari zona nyaman untuk mencari kenyamanan yg lain. Itu sih.

    ReplyDelete
  2. Dari awal saya sudah curiga klo ujungnya pasti curhat.. hahaha. Pengabdian luar biasa ya sampe ke Nias segala. Hebat. Omong2 soal zona nyaman dan keluar atau mencari, sudut pandang yoga menurut saya ada benarnya. Karena itu percayalah single lama kelamaan akan jenuh dan bikin ga nyaman, lalu akhirnya kau pun mencari kenyamanan dgn pernikahan atau balikan dgn mantan #eh. Waspada lah...

    ReplyDelete
  3. Hahaha..Duh, ditinggal pacar balikan sama alumni hatinya ya, Mas. Berarti itu pacarnya berhasil menemukan coba nyamannya ya, Mas.. haha

    Setuju, mari kita mencari zoma ternyaman kita..he
    Gak cuma kerjaan, begitu juga cinta ya, Mas, kalau bosan pacaran, nikahilah, halalkanlah..he

    ReplyDelete
  4. Awal ngebaca ini sempat ngak setuju sama pendapat kamu.. Tapi setelah saya ngebacanya sampai selesai, saya setuju sama kamu.. Ngapain kita musti keluar kalo kita sudah nyaman.. Hehehe

    ReplyDelete
  5. Yoga, jawab dulu komennya, biar bisa sy komen lagi. Biar tampak bersahut2an gitu lah ya.. :)

    ReplyDelete
  6. Huaaa pernah ngerasin juga disaat-saat mencari zona ternyaman. Tapi gw yakin setiap orang pasti ada masanya dan akan menemukan hal ternyaman atau hal yang paling disukainya. Karena saat keluar dari zona nyaman belum tentu yang di dapat senyaman yang dulu, cuma kita bisa belajar dari itu.

    ReplyDelete

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter