Sunday, 25 June 2017

Dilarang Basa-Basi

Share it Please

Budaya di Indoensia begitu beragam. Beda tempat, beda kebiasaan. Seperti yang gue temukan di Nias ini. Gue cukup kaget dengan perbedaan budaya yang gue temukan di sini. Salah-satunya tentang kebiasaan orang Nias yang kalo bicara langsung ke poin permasalahan. Mereka enggak suka berbasa basi.

“Kapan mau main ke rumahku orang bapak ini?” tanya seorang warga kepada gue kala itu. Rumahnya cukup jauh. Dia menawarkan gue untuk berkunjung ke rumahnya. Gue agak ragu karna daerahnya yang jauh dan mendaki. Gue khawatir naik memuncak bakal bikin gue kena step, dan pingsan karna kecapean naik.

“Iya, Pak. Nanti saya main kalau ada waktu,” kata gue basa-basi.

Eh, besoknya bapak itu dateng lagi nyamperin gue ke rumah. “Kemarin aku tunggu orang bapak tapi kenapa enggak datang ke rumahku?” katanya.

He?

Ternyata basa-basi gue kemarin bilang, “nanti main” dianggap serius. Kalo kita bilang “nanti,” orang sini benar-benar menganggapnya beneran nanti, sesudah ini, enggak lama dari waktu sekarang. Beda dengan di Jawa mengartikan kata, “nanti” bisa diartikan banyak arti. Seperti nanti minggu depan, nanti tahun depan, nanti di kehidupan yang akan datang.


Pernah lagi saat gue diantar pulang oleh ojeg. Kang ojeg berdua dengan temannya. Saat itu gue enggak ngasih ongkos ojeg langsung ke si kang ojeg. Biar dulu dia ngobrol dan ngopi di rumah. Begitu lama, temennya bilang, “Pak Yoga, sudah kasih ongkos samanya?”

“Belum,” kata gue sambil menggeleng unyu.

“Kasihlah. Dia menunggu dari tadi.”

“Eh? Saya  juga nungguin dia. Mana tahu mau ngopi atau istirahat dulu.”

“Enggak itu, Pak. Langsung aja kasih samanya.”

Lah, gue nunggu, dia juga nunggu. Jadi sama-sama nunggu gini.

Temen gue sesama guru dari Jawa yang mengajar di Nias ini pun mengalami hal yang sama. Ia saat itu mengunjungi rumah kepala sekolah untuk menitipkan barang. Saat itu temen gue sebut saja namanya Karolina ini ngajak ngobrol si kepsek dulu. Kan enggak enak dateng, ngasih barang, terus cabut. Karolina berniat basa-basi dulu ngobrol sama si kepsek. Terus aja dia ngajak ngobrol si kepsek. Sampe muter-muter nyari topik bicara. Udah lama ngobrol, baru lah Karolina ngasih tuh barang titipan ke kepsek.

Karolina pulang ke rumah dan semuanya baik-baik saja.

Eh, besoknya kerabat kepala sekolah cerita ke Karolina, “Pak kepala bilang ibu ni banyak kali cerita yah.”

“Eh?”

Saat itu juga Karolina tehentak. Pak kepala ternyata nungguin Karolina beres cerita. Mungkin dalam hatinya, “Etdah ni orang ngobrol mulu. Buru napa kasih gue tuh barang!”

Begitu juga Karolina. Dia nungguin kepsek selese ngobrol untuk ngasi tuh barang.

Pernah juga ada guru pengen minjem duit ke gue. Dia dateng ke rumah. Dan gue ngerasa harus ngajak dia ngobrol dulu. Masa dateng ke rumah, terus langsung gue kasih duit ke dia padahal baru aja dia duduk. Udah ngobrol enggak begitu lama, guru itu langsung bilang, “Ada Pak Uangnya?”

“Oh, sekarang?”

“Iya lah, Pak. Enggak lama-lama saya di sini. Mau ke gereja.”

Eh?

Ini kalo di Jawa ada orang kayak gini, udah diomongin abis-abisan di belakang, “Ih, tahu enggak sih. Si Udin dateng pas ada maunya doang. Giliran mau minjem duit, dateng. Terus langsung cabut lagi. Hih!”

Waktu terus berlalu. Makin lama gue terbiasa dengan kebiasaan “to the point” orang-orang di sini. Suatu saat ada lagi yang minjem duit ke gue. Gue langusng aja kasih duit itu ke dia bahkan sebelum dia duduk di kursi. Sebelum dia bilang apa-apa. Sebelum dia selesai menarik satu helaan nafas.

Gue enggak bisa menganggap mereka enggak sopan, atau songong dengan kebiasaan “to the point”-nya. Ini bagian dari budaya sih. Di sinilah gue belajar bagaimana keberagaman masyaakat Indonesia bahkan dari hal sesederhana “to the point.”

Selain hal “to the point” di atas, saat ada orang Nias yang menawarkan jamuan, itu artinya dia benar-benar menawarkan bukan sekedar basa-basi. Jadi, terimalah apapun yang orang Nias jamu untuk kita. Ini merupakan suatu kehormatan yang mereka berikan. Kalau kita menolak, kita dianggap enggak sopan, sombong, atau sok kecakepan.

Kita pun enggak perlu basa-basi dengan bilang, “duh, terimakasih. Maaf merepotkan.”

Kalo kita bilang basa-basi begitu, yang ada bakal dibales, “Apaan merepotkan!”

Lagian menurut gue yang namanya basa-basi ngeselin juga sih. Ngapain juga gitu. Kadang basa-basi bikin gue ngerasa enggak jujur, buang-buang waktu. Kayak kejadian untuk menolak main ke rumah warga yang jauh dan sulit dijangkau waktu itu. Kenapa juga gue enggak bilang langsung aja jujur gitu, “Enggak ah. Jauh, Pak. Takut mati di jalan.”

Di Jawa gue ngerasa hidup di dunia yang terlalu banyak basa-basi. Sampai dalam menolak cinta yang dilakukan oleh cewek-cewek pun kebanyakan basa-basi.

Seperti, “Maaf, bukannya aku enggak mau jadian sama kamu. Tapi aku ngerasa udah nyaman temenan sama kamu. Enggak lebih,” kata si cewek.

Atau, “Aku enggak bisa. Aku mau fokus ngerjain skripsi dulu.”

Bahkan, “Maaf, kamu terlalu baik buat aku.”

Kenapa cewek enggak jujur aja sih saat nolak cowok. Enggak usah dengan alasan nyaman temenan, fokus skripsi, atau terlalu baik.

Misalnya to the point kayak gini nih:

Cowok : Aku suka sama kamu. Boleh enggak aku jadi cowok kamu?

Cewek : “What? Elo mau jadi cowok gue? Helloww.... Ngaca dong! Muka kayak pantat sapi gitu mau jadi pacar gue Cuihh!!”

O-oke, itu lebih ke memaki sih, bukan to the point.  

So, buat kalian yang berniat main ke Nias atau menetap di Nias, ada baiknya kalian untuk enggak berbasa-basi di sini. Jujur apa adanya. Langsung lah ke topik permasalahan.

Well, semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membacanya.

This is the end of the post. Feel free to write your comment below and share the inspiration!

Byee....

No comments:

Post a Comment

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter