Sunday, 13 April 2014

Lika-liku Skripsi

Share it Please


“Permisi, Bu, saya dari Unsoed,” Kata Gina sambil senyum ramah. Lalu dia melanjutkan, “Saya mau obesrvasi wawancara yang punya pabrik bawang ini, Bu, buat skripsi,“ kali ini senyumnya makin ramah dan lebar. Sedangkan gue yang ngintilin dia di belakang juga ikutan senyum lebar. Selebar senyum para caleg di spanduk kampanye.

“Oh, iya bisa, Mba. Tapi sekarang lagi istirahat, nih,” kata karyawan pabrik bawang tersebut sambil melirik jam dinding yang menunjukan jam sebelas. “Nanti dateng lagi jam dua yah,” ucapnya.

“Oh, iya, Bu,” jawab Gina, lagi-lagi dengan senyum ramah. Tanpa ngomong apa-apa lagi, karyawan itu langsung masuk kembali ke kantor. Sedangkan gue dan Gina yang saat itu berdiri di depan pintu kantor hanya diam terpaku, tanpa dipersilahkan duduk dan menunggu di dalam kantor. Kampret!

Akhirnya gue dan Gina cuma bisa nunggu sambil duduk-duduk unyu di teras kantor. Kami persis seperti sepasang gembel yang kehilangan arah. Benar-benar terlantar. Sedih!

Sambil menunggu, Gina megeluarkan hapenya. Dia asik sms-an. Enggak mau kalah, gue pun mengeluarkan hape, lalu SMS pacar.

“Medh chiank chayank qoeh,” ketik gue di SMS. Tanpa menunggu hasil quik count pemilu, langsung gue kirim SMS itu. Bukannya terkirim, SMS itu malah gagal terkirim. Gue kirim lagi, gagal lagi. Kirim lagi, gagal lagi. Setelah lama, gue baru sadar, gue enggak punya pulsa. Nyesek!


Sambil menunggu jam dua, gue dan Gina melakukan berbagai kegiatan positif, seperti ngobrol, solat, dan main tak umpet! Setelah berjuang nunggu selama tiga jam, akhirnya jam dua tiba juga. Kami langsung mendatangi karyawan tadi,

“Ada perlu apa ya, Mba?” kata karyawan tadi. Gue tercengang. Aneh banget. Kok dia lupa sama kita yang mau wawancara tadi, gumam gue dalam hati. Perasaan gue enggak enak nih.

“Saya mau wawancara, Bu, sama pemilik pabrik bawang ini,” ucap Gina santun sambil mengeluarkan buku catatan dari ranselnya.

 Setelah itu, kami dipersilahkan masuk, dan duduk di dalam. Akhirnya dia punya hati juga untuk mempersilahkan gue dan Gina masuk, gumam gue.

“Mau wawancara apa, Mbak? Ke saya ajah sini.”

“Ini, Bu, mau wawancara seputar pabrik bawang goreng ini. Kalo bisa sih sama pemiliknya, Bu,” kata gina.

“Ehm... gimana yah. Hari ini yang punyanya lagi enggak ada,” ucap karyawan itu sambil ngorek-ngorek gigi pake kuku.

Deng!

“Ta-tapi tadi...”

“Dateng aja lagi besok!” belum juga gue selesai  ngomong, tu karyawan langusng motong dan nyuruh dateng lagi besok.

Gue dan Gina hanya terpaku. Ini nyebelin banget. Tadi dia bilang kita bisa wawancara yang punya pabrik, tapi harus nunggu dulu sampe jam dua. Nah, setelah kita lemas menunggu sampe jam dua, eh dia malah baru bilang kalo yang punya pabrik tuh enggak dateng hari itu. Kampret! Kenapa enggak bilang tadi aja sih biar kita enggak mesti nunggu cape selama tiga jam. Kampret dia! Saking kampretnya, pengen banget gue selipin irisan bawang ke kelopak matanya!

Akhirnya kami pun pulang dalam keadaan lemas tak berdaya.

***

Itu tadi salah satu cerita ternyesek saat gue anter Gina untuk observasi data buat skripsinya. Gina adalah sepupu gue. Iyah, dia satu tahun lebih tua dari gue. Walaupun dia lebih tua dari gue, tapi gue memanggilnya, “Adek.” Itu dikarenakan memang wajah gue lebih tua darinya.

Mari kita lihat gambar Gina dibawah ini:



Nah, bisa dilihat kan wajahnya yang sangat muda seperti gadis yang baru saja memasuki masa akhil baligh. Lalu mari kita lihat wajah gue dibawah ini:




Nah, jelas sekali terlihat kan wajah gue yang tua menyerupai om-om stres habis kalah nyaleg! Iyah, memang wajah gue boros usia.

Gina ini sedang menyelesaikan skripsinya. Karna itu dia butuh data-data penunjang dalam pembuatan skripsinya. Dia kuliah di jurusan pertanian, maka observasinya pun seputar pertanian, seperti dinas pertanian, badan penyuluhan daerah, sampai pengusaha-pengusaha pangan seperti pabrik bawang goreng kampret tadi.

Sebelum gagal observasi ke pabrik bawang tadi kami juga menghadapi rentetan halangan dan rintangan saat observasi ke tempat-tempat lainnya. Seperti saat kami obsrvasi ke dinas pertanian setempat.

Sebelum datang ke dinas pertanian, Gina sudah janjian dengan petugas di sana. Gina juga sudah menyerahkan form observasi ke petugas itu di hari sebelumnya. Jadi, sekenario awal sih begitu datang ke dinas, terus kami bertemu dengan petugas, lalu ambil form observasi, kemudian selesai dan lanjut observasi ke tempat lain deh. Namun, kenyataannya yang terjadi enggak seindah dalam sekenario itu.

Dengan elegan gue parkirkan motor supra gue di halaman parkir dinas pertanian. Baru saja gue dan Gina turun dari motor, Gina langsung mendapat SMS dari petugas itu. Lalu Gina bilang, “Petugasnya lagi keluar, Ga.”

Ah sial! Itu artinya kami harus menunggu dia. Terus terang, gue paling sebal dengan yang namanya menunggu. Karna menunggu itu capek. Apalagi menunggu kepastian perceraian Farhat Abas dengan Nia Daniati.

Akhirnya kami mencoba masuk ke dalam. Lalu kami menuju ruangan Pak Very, nama petugas tersebut. Sesampai di depan ruangannya, Gina mengintip ke dalam lewat pintu kaca. Dia tercengang, ternyata Pak Very ada di dalam.

“Ih, itu ada di dalem orangnya, Ga,” kata Gina sambil nyengir enggak percaya.

“Masa sih?” kata gue. Lalu dengan sok, gue bilang, “Ketok ajah pintunya, terus masuk! A-aku nunggu di luar ajah ya.” Gue mundur perlahan.

Awalnya Gina ragu-ragu untuk masuk. Dia maju untuk masuk, terus mundur lagi. Sesekali dia buka hape.

Dari belakang, gue bilang, “Udah, buruan masuk!”

Gina cuma menanggapi dengan nyengir lebar. Dan akhirnya dia masuk ke ruangan Pak Very.

Entah kenapa setelah dia masuk, gue jadi pengen ikutan masuk juga. Akhirnya pun gue ngintilin Gina masuk ke dalam.

Dengan raut wajah yang tampak kaget, Pak Very bilang, “Eh, eneng. Ko ada disini? Inih saya tadi baru aja mau ke luar.” Katanya sih dia baru pengen ke luar. Tapi setelah gue liat, di mejanya tampak banyak tumpukan kertas, terus dia juga keliatan lagi sibuk ngerjain ini-itu. Hem, “lagi di luar” itu pasti cuma trik dia aja agar enggak diganggu. Kampret!

“Hehe, iya, Pak. Tadi enggak sengaja liat bapa,” jawab Gina.

Dengan kikuk Pak Very cuma bilang, “Ini, neng, saya belum sempet ngisi form observasinya.” Nah ketahuan. Ternyata trik “lagi di luar” bukan cuma menandakan dia enggak mau diganggu, tapi juga ternyata emang dia belum ngisi form observasi Gina yang udah Gina serahin ke dia di hari sebelumnya. Kampret!

Untung aja Gina enggak cuma ngasih form observasi ke dia aja. Untungya Gina juga udah menyerahkan form observasi ke petugas lainnya. Yaudah deh, walaupun Pak-Very-yang-katanya-lagi-di-luar-itu belum ngisi form, tapi petugas lainnya udah ngisi. Sip, akhirnya kita pergi ketempat lain setelahnya.

Tujuan kami selanjutnya adalah pabrik minuman jeruk nipis gitu. Kali ini Gina belum janjian dengan pemiliknya untuk wawancara. Jadi kami sepontanitas aja dateng kesana, terus wawancara, setelah selesai kami beranjak ke tempat lainnya deh.

Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya kami tiba di pabrik minuman jeruk nipis. Pabriknya enggak besar-besar banget. Sepertinya pabrik ini skalanya usaha rumahan. Memang sih, minuman jeruk nipis ini didstribusikan untuk daerah sekitar ajah.

Kami pun langsung menemui karyawan dari pabrik itu.

“Bu, permisi, saya mahasiswa dari Unsoed,” kata Gina.

“Oh, iya Neng. Ada perlu apa?” jawab ramah dari karyawannya.

“Mau wawancara seputar minuman jeruk nipis ini, Bu, sama pemiliknya.”

“Oh, bapaknya lagi enggak ada. Lagi jadi panitia Panwaslu.”

Ternyata pemiliknya lagi enggak ada di tempat. Dia sedang menjadi panitia pemilu. Huft tapi, sukurlah dia cuma jadi panitia pemilu, bukan jadi caleg pemilunya. Takutnya kalo kalah nyaleg, terus gila deh. Hih!

Kalo mau wawancara dengan pemiliknya, katanya kita harus menunggu. Nunggu sampe pemilu selesai. Waw, kami tercengang. Lama banget kalo gitu. Ini bukan kampret lagi, tapi lebih-lebih dari kampret!

Seketika mulai tercium aroma kegagalan. Iyah, gagal wawancara dan gagal dapet informasi dari pabrik itu. Sepertinya kami (lagi-lagi) bakal pulang dengan lemas tak berdaya.

Gue sudah berada di atas motor, bersiap menyalakan motor. Sesaat sebelum Gina naik motor untuk gue bonceng pulang, tiba-tiba keajaiban terjadi. Ada sebuah suara yang muncul dari arah belakang gue. Bunyinya,

“Mbak, mau wawancara apa?” bunyi suara itu. Secepat geludug, gue nengok ke belakang. Seketika gue melihat sosok yang indah. Bentuknya seperti perempuan, tinggi semapan, wajahnya teduh, hidungnya mancung, make up-nya enggak ketebelan. Ternyata itu adalah anak dari empunya pabrik.

Gina yang sudah bersiap naik motor, langsung berbalik badan lalu  bilang, “Ini wawancara seputar minuman jeruk mipis.”

“Untuk skripsi?”

Gina menjawab dengan anggukan kepala dan senyum yang merekah.

“Datanya kuantitatif atau kualitatif?” kata si anak si empunya pabrik itu. Sampai sini gue jadi bingung. Apa itu kualitatif? Apa itu kuantitatif? Ah, entahlah!

Akhirnya, anak si empunya pabrik itu pun bersedia untuk diwawancarai. Dia paham dengan seluk-beluk pabrik minuman jeruk nipis tersebut. Dia sanggup untuk menjawab pertanyaan bertubi-tubi seputar pabrik tersebut. Akhirnya ya Tuhan, kami enggak sia-sia berangkat jauh ke pabrik jeruk nipis ini. Akhirnya kami enggak jadi pulang dengan keadaan lemas tak berdaya. Anak empunya pabrik itu seperti penyelamat kami dari kegagalan saat itu.

Wawancara pun berlangsung lancar jaya. Dengan asyiknya, Gina melayangkan pertanyaan-pertanyaan pada Mawar. Iya, sebut saja nama si empunya pabrik itu Mawar. Soalnya gue lupa dengan namanya.

Mawar ini satu tahun lebih tua dari Gina. Dia baru saja lulus tahun kemarin. Dia juga bersedia diwawancarai untuk skripsi karna dia tahu betapa susahnya perjuangan menyusun skripsi. Dia bisa mengerti penderitaan yang dipikul Gina saat itu. Iyah, Mawar memang sosok yang pengertian. Selain pengertian, dia juga cantik, baik, udah gitu bapaknya punya pabrik lagi. Bener-bener cocok nih kalo dijadikan... majikan.

Di situ bukan cuma ada gue, Gina, dan Mawar. Di situ juga ada anak balita. Dia adiknya Mawar. Sementara Gina dan Mawar lagi asik berwawancararia, gue coba bermain-main dengan adiknya Mawar. Gue memang suka sama anak kecil. Terlebih adeknya Mawar unyu dan lucu. Bikin gue gemes. Saking gemesnya, pengen banget gue menyusui dia di tempat. Namun, untung itu enggak jadi. Karna gue baru inget, gue ini cowok, enggak punya tetek.

Setelah setengah jam, akhirnya wawancara pun selesai. Wajah Gina jadi terlihat lega dan bahagia setelah berhasil mewawancarai Mawar. Hari itu kami berhasil dan enggak pulang dengan tangan hampa. Gue pribadi rasanya senang dan lega. Padahal itu bukan skripsi gue, dan gue cuma nganterin doang.

Ternyata capek banget nyusun skripsi. Capek batin dan fisik. Gumam gue saat duduk di emperan masjid bareng Gina. Saat itu kami sedang istirahat untuk solat.

“Dek, tahun depan nanti aku gimana ya garap skripsi, haduh!” kata gue ke Gina yang duduk di sebelah.

Sambil senyum, Gina cuma bilang, “Hehe, jangan pikirin hal yang belum waktunya dipikirin.”

Hemph, ada benarnya juga Gina. Iya, sebaiknya gue senggak perlu mikirin skripsi dulu. Gue memang belum waktunnya mikirin skripsi. Mending gue fokus mikirin kuliah gue yang sekarang. Terlebih sekarang gue lagi ada tugas magang di SD, gue juga bekerja jadi tutor Bahasa Inggris di sebuah tempat les. Yup, gue sepertinya mesti fokus dulu ke hal-hal tadi deh. 

Gambar Gina (kanan) dan Mawar (kiri) sehabis wawancara

9 comments:

  1. wah rumit jg ya mo observasi tp narasumber antara ada n tiada,,,untung bisa ktmu n wawancara

    ReplyDelete
  2. em,,gimana ya bang,,,emang bener sih,,meskipun lebih muda.. tapi wujudnya lebih tua..maaf ya bang...saya cuma ingin mengatakan yang sebenarnya.......

    ReplyDelete
  3. waduh, ntar kalo aku skripsi gimana ya? ahhh tidaaakk!! *abaikan*

    aku juga pernah ngalamin hal yg kayak gitu, tapi ngga buat observasi skripsi juga *semester 4 aja blom kelar*
    pernah waktu itu cari dana buat lomba festival banjari, yah sama persis lah, mau ketemu sama yang punya, di bulet-buletin sama karyawannya.. memang bikin capek segalanya -_-

    ReplyDelete
  4. Emang ngerjain skripsi gak cuma nguras otak tapi juga ngelatih kesabaran. Emang kampret banget petugas bawangnya, gue setuju banget kalo lo mau nyelipin irisan bawang dikelopak matanya, kalo bisa jangan dikelopak matanya aja, ga, tapi dibelahan pantatnya juga biar tahu gimana rasanya terombang-ambing menunggu 3 jam, pas udah menunggu malah beda lagi alasannya. Emang kampret banget.

    Petugas dinasnya juga gak kalah kampret!! Bilang di luar padahal di dalem. Mahasiswa emang harus banyak sabar dan selalu bilang aku rapopo.

    Muka lo emang boros, makanya ganti yang 4 tak aja, lebih irit.

    ReplyDelete
  5. asli ngeselin banget itu karyawan pabrik bawang goreng. udah dibuat nunggu juga. gak tau apa menunggu itu menyiksa jiwa raga. -_-
    setia banget lo ga, mau nemenin sepupu buat ngerjain tugas skripsinya, sehingga kesabaran lo ikut terkuras.
    tapi itung-itung sebagai pengalaman ngerasain lika-likunya skripsi ya ga. jadi nanti lo udah tau apa aja yang mesti dilakukan, dan tau apa aja resiko yang bakalan lo hadapin.

    rugi banget lo gak ingat namanya mawar, udah minta no hpnya belum. siapa tau ntar dia bersedia jadi majikan lo ga, jadi baby sitter adeknya. hehehe

    ReplyDelete
  6. ahh, muka mbak gina imut banget, jadi kepengen #eh..
    sumpah muka lo berbanding 25835 derajat banget bang. Miris gue, miriiiiiiiis banget bang :(

    ReplyDelete
  7. gue dulu juga skripsi tapi enggak sampai sesmenyedihkan itu..
    kasian Gina, udah susah nemuin narasumber dianterin orang tua lagi.. nggg, maksud gue orang bermuka tua..

    perjuangan berkali-kali lipat dari biasanya emang harus dilakukan lebih niat lagi hari-hari biasanya..

    eh.. salam buat gina, dari edotz herjunot... kapan2 mau diajak nikah gue katanya.

    ReplyDelete
  8. Lo gak tua kok,cuma overdosis muka aja....
    Banyak orang yang bilang skripsi itu menakutkan,tp ah woles aja...toh masih ada setahun lagi gw hahaha

    ReplyDelete
  9. waduh, gimana nasib ane ya. skripsi uda mau didepan mata ;( , bkalan bergadang sampai 5 hari 6 malam. baca perjuangan adekmu.

    ReplyDelete

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter