Thursday, 7 November 2013

Pelajaran Dari Sepatu

Share it Please


Sepulang kampus kemaren, gue berkeliaran di mall. Bukan, bukan untuk menghipnotis pengunjung mall lalu mengambil barang berharganya. Enggak mungkin gue melakukan kejahatan keji seperti itu. Apalagi sampai menghipnotis sepasang couple, lalu menculik si ceweknya untuk gue jadikan pacar. Walaupun gue jomblo, gue tetap punya hati. Gue adalah jomblo yang baik dan punya intergritas tinggi.
Jadi, gue berkeliaran di mall untuk hunting sepatu. Maklum, sepatu gue udah enggak bisa lagi gue pake. Tu sepatu sudah robek, dan enggak nyaman dipakai. Sudah saatnya tu sepatu digati. Cukup berat memang saat gue harus enggak lagi memakai tu sepatu. Padahal tu sepatu sudah lama menemani langkah gue. Dia selalu ada buat gue. Dan kini saat gue harus beralih ke sepatu baru, semua kenangan bareng sepatu lama gue muncul di benak.
Gue inget saat-saat gue upacara menggunakan sepatu lama gue. Gue juga inget saat gue bergembira ria bermain futsal bareng sepatu lama gue. Pokoknya sepatu lama itu sudah menjadi bagian dari hari-hari gue. Tapi gue harus menerima kenyataan bahwa kini gue harus “pindah” ke sepatu baru gue. Sepatu yang lebih baik, lebih nyaman, dan lebih menyenangkan buat gue.

Pencarian gue berawal di sebuah mall. Di mall, gue bisa mendapatkan sepatu berkualitas. Karna gue yakin di sana pasti pusatnya sepatu-sepatu ori. Gue memang bukan orang kaya dan punya banyak uang untuk membeli barang-barang mahal. Tapi untuk urusan sepatu, gue harus serius. Gue enggak mau beli sepatu yang asal. Gue ingin yang berkualitas agar bisa gue pake dalam jangka waktu yang lama. Iyah, gue memilih yang awet, kalo bisa sih yang bisa gue pake seumur hidup. Karna itu lah gue memilih sepatu yang terbaik kualitasnya.
Bukannya gue meremehkan sepatu-sepatu di pasar tradisional. Tapi, berdasarkan pengalaman gue, sepatu di pasar kebanyakan KW, mangkanya harganya murah, dan kualitasnya rendah. Beda dengan sepatu ori yang di mall dengan kualitas tinggi, ya, wa-walaaupun  mahal sih.
Setelah lama mencari, dan membanding-bandingkan sepatu satu dengan sepatu lainnya, akhirnya gue menemukan yang srek. Pilihan gue jatuh ke kedua sepatu ini. 









Menemukan dua sepatu itu sangatlah sulit. Berbagai macam sepatu sudah gue jumpai sebelumnya. Banyak sepatu-sepatu keren, tapi style-nya enggak srek dengan gue. Ada yang terlalu menor warnanya, atau terlalu mewah menggunakan ret sleting yang kelihatannya enggak srek bagi gue. Akhirnya gue menolak sepatu itu untuk gue miliki.
Selanjutnya gue menemui sepatu merk tertentu yang menurut gue keren. Sengaja enggak gue sebut nama mereknya. Bukan, bukan karna prifasi, tapi karna memang gue lupa merknya apa. Gue merasa srek  dengan sepatu itu. Tampilannya simple. Gue juga suka dengan warnanya yang kalem. Gue pun melakukan PDKT sesaat dengan sepatu itu, tapi sayang, kali ini malah gue yang ditolak. Kenapa bisa ditolak? Karna begitu gue lihat harganya... ternyata mahal. Menohok sekali rasanya. Gue serasa tertolak mentah-mentah oleh sepatu itu. Gue enggak mungkin memilikinya dengan harga yang selangit itu.
Dan akhirnya Tuhan mempertemukan gue dengan dua sepatu yang ngebuat gue srek tadi di atas. Setelah itu muncul lah problem, yakni gue bimbang galau gundah gulana memilih diantara keduanya. Gue suka kedua-duanya. Ini sangat sulit bagi gue. Rasanya seperti memilih antara balikan dengan mantan yang masih gue sayang, atau memilih jadian dengan gebetan yang sudah minta kode untuk ditembak. Berat. Berat banget!
Gue pun mencoba memakai keduanya secara besamaan agar dapet feel-nya. Kaki kanan menggunakan sepatu hitam, kaki kiri menggunakan sepatu bertali merah.




 Setelah gue rasakan, gue timbang-timbang, gue pikir-pikir, mulai lah gue merasa srek dengan sepatu hitam (yang kanan). Dia nyaman di kaki, keren, dan ngebuat gue yakin. Gue yakin ganteng-meter gue bakal meningkat drastis jika menggunakan sepatu itu. Tapi begitu gue lihat lagi sepatu bertali merah (yang kiri), gue juga merasa ingin memilikinya. Masih aja terasa berat untuk meletakannya dan mengembalikannya ke mbak-mbak SPG-nya. Dilematis abiss! Dan akhirnya, gue merelakan si merah, dan memilih si hitam. Gue resmi memilikinya. Sipp!
 Selanjutnya, gue pulang mengendarai motor dengan senang. Walau masih kepikiran sama si merah, tapi gue mencoba mengikhlaskannya. Hidup ini memang tentang pilihan dan merelakan. Iyah, gue sudah memilih sepatu hitam untuk mewarnai hari-hari gue. Di sisi lain, gue merelakan si merah menjadi milik pembeli lain jika suatu saat dia dibeli orang lain. Ini sama aja saat kita merelakan mantan menjadi milik orang lain pilihannya, dan mencoba menjalani hidup baru yang mungkin lebih hebat dan berwarna dengan orang baru.
Btw, gue jadi berpikir ada beberapa pelajaran yang bisa gue dapet dari sepatu. Setelah membeli sepatu, gue jadi merenung. Semua itu gue lakukan, karna gue pernah melewati fase hidup yang bisa diumpamakan dengan sepatu.
Yaitu: Pertama: sepatu yang baik berasal dari tempat yang baik-baik. kalo gue mencari sepatu di tempat menjual barang-barang ori, pasti gue juga bakal menadapat sepatu ori berkualitas tinggi. Sedangkan kalo gue mencari sepatu di tempat barang-barang KW, gue pasti bakal dapet sepatu KW juga. Ini sama dengan pacar. Kalo gue nyari pacar di tempat-tempat baik dan berkualitas seperti: perpustakaan, toko buku, atau pengajian harian, maka gue pun bakal dapet pacar yang baik, berkualitas tinggi, dan bibit unggul. Sedangkan kalo gue mencari pacar di tempat yang enggak baik seperti mall, tempat dugem, atau kolong fly over, mungkin gue bakal mendapatkan pacar yang hobi banget belanja, clubing sambil minum dan ngeroko, atau suka tidur di emperan toko. Malu-maluin!
Kedua: gue jadi inget saat gue diberi sepatu sama bapak. Sepatu yang beliau  berikan enggak srek dengan selera gue. Karna enggak srek, gue jadi merasa setengah-setengah memakainya. Enggak ada kepuasan berarti yang gue rasakan saat menginjakan kaki gue di sepatu itu. Sehingga gue enggak merawatnya dengan baik. Secara kasar gue gunakan saat main futsal. Akihrnya enggak lama kemudian tu sepatu jebol solnya. Dan rusak. Berbeda banget perlakuan gue terhadap sepatu yang gue beli sesuai selera gue saat ini. Gue merawatnya dengan baik. tu sepatu enggak pernah gue kasarin. Gue selalu menginjaknya dengan lemah lembut. Bahkan gue suka ngesot dan guling-guling demi menghindari menginjak sepatu gue. Gue khawatir tu sepatu gue injak atau gue forsir terlalu keras. Hal terebut sama dengan pacar. Pacar hasil perjodohan orang tua biasanya enggak srek dengan kita. Dan bakal terjadi kejadian seperti di FTV: si pacar akhirnya enggak dirawat dengan baik. Dibiarkan terlantar tanpa kasih sayang. Secara fisik dia pacaran tapi hatinya jomblo karna ditelantarkan. Sementara kalo kita memilih sendiri pacar sesuai selera kita, maka kita akan menjaganya dengan baik. Menyayanginya sepenuh hati. Rela berkorban demi si pacar.
Satu lagi: pengorbanan yang kita lakukan akan berbanding lurus dengan hasil yang kita dapatkan. Kita berkorban membeli sepatu yang mahal karna sepatu itu ori berkualitas tinggi, maka kita pun akan terpuaskan dengan sepatu itu. Tu sepatu bakal awet dan nyaman dipakai. Sedangkan kalo kita membeli asal sepatu KW murah tanpa pengorbanan berarti, maka kita pun enggak akan terpuaskan dengan sepatu itu. Tu sepatu enggak nyaman dipakai, dan bakal cepet rusak. Ini sama seperti perjuangan dalam mencintai. Semakin kita berjuang mencintai seseorang, maka kita pun bakal dicintai dengan baik. Besarnya cinta yang kita punya dan hebatnya perjuangan mencintai akan berbanding lurus dengan besarnya cinta yang bakal kita dapatkan. Jadi jangan pernah lelah berkorban dalam mencintai!
Demikianlah pelajaran yang gue dapet dari sepatu. Terkadang kita melewatkan hal-hal kecil di sekeliling kita yang bisa kita jadikan pelajaran, termasuk pelajaran tentang sepatu ini. Moga tulisan gue ini bisa menginspirasi lo, dan memebuat lo menghargai sepatu yang lo miliki. Sekian! 

17 comments:

  1. kasian tu sepatu lama lo tinggalin gitu aja, lo jga harus pikirin sepatu lama lo juga.
    hahah terkadang gua juga gitu kalo mau beli barang, butuh proses yg lama buat nentuin pilihan mana yang terbaik. pas udah beli masih kepikiran barang yang lain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. inget dulu? muter keliling palembang buat nyari helm yg srek? akhirnya beli di toko pertama -_- dan hilang di hari pertama pemakaian :D

      Delete
  2. Ih, bisa banget ngehubung-hubungin sepatu sama pacar..
    Keren, Yog XD

    Jadi inget lagunya Tulus yang judulnya Sepatu..
    "Kita adalah sepasang sepatu.. Selalu bersama, tak bisa bersatu...."
    JLEB T_T

    Betewe, selamat ya, akhirnya kamu berhasil nemuin "pengganti" yang srek di hati ;)

    ReplyDelete
  3. widih sepatu aja bisa jadi inspirasi hidup nih, keren bang, tapi coba kemaren beli yang hitam terus yang merah beli tali nya aja gitu? jadi puas ganti sesuka hati hehe

    ReplyDelete
  4. Tulisannya keren bang. Bisa mengaitkan sepatu sama percintaan. Pesan moralnya dapet banget lagi. Hahaha.
    Untung, lo pilihnya warna hitam. Iya, soalnya, gue lebih srek sama sepatu warna yang hitam
    Btw, sepatu aja bisa lo dapetin. Masa 'cewe' belom dapet-dapet juga? *kabur ke pluto*

    ReplyDelete
  5. kalo aku, seringnya beli sepatu gitu aja.. entah itu ori ato enggak, yang penting sepatu nyaman dipake... juga tergantung budget sih,, soal awet tidaknya, tergantung kita dalam merawat dan menjaganya *sama aja*... sama kayak cewek, itu cewek baik2 ato kurang baik, kalo kita menjaganya dengan baik, pasti juga bakal menjadi baik dan awetttt

    ReplyDelete
  6. oohh jadi itu baru ga, apakah bersama kaos chelsea itu?? sampe gaboleh dipegang sama dimas hahaha

    ReplyDelete
  7. Wah keren mas, ada tiga pelajaran yang ditorehkan
    Perjuangan besar, butuh pengorbanan besar
    Yang baik, pasti berada di lingkungan yang baik pula
    Selera sendiri.

    Oke, renungan tentang sepatunya kan aku kembangkan ya???

    ReplyDelete
  8. Wuwuwuw kan kan gw jadi pengen sepatu , udah lama sepatu gw belom gonta ganti -_-
    Gw akan menabung dan memperjuangkan untuk beli sepatu ahh

    ReplyDelete
  9. Aku juga kalo beli sepatu susah banget cari yang pas, bahkan semua toko aku datengin... dan kadang2 ada yg gak.pas sma sekali ... Mencqri sepatu itu layaknya mencari kekasih :D

    ReplyDelete
  10. bener buanget! apa aja harus kita syukuri. tapi kalo menurut aku mending beli sepatu mahal sekalian yang berkualitas dan kita puas. lagian bisa di pake tahan lama juga.

    tapi aku dulu waktu masih sekolah sukanya beli sepatu murahan tapi modlenya bagus. jadi sebulan udah rusak dan beli lagi.hahaha

    ReplyDelete
  11. jiah,,,,,pas juga tuh,,,,,
    iya juga sih....masak mau cari istri kw 2..hadah..kan juga gak asyik ya....

    ngomong2 kalau ambil dari Madrasah gitu termasuk ori kan :P

    ReplyDelete
  12. aduh jadi gue nggak nyangka nih kalo dari sepatu bisa memetik pelajaran kayak gitu...
    dan tiap bahas2 pacaran gitu entah kenapa gue jadi sedikit nyesek...
    btw gue juga sering galau milih sepatu kayak gitu..kalo budgetnya cukup sih ujung2nya beli dua2nya...hahaha

    ReplyDelete
  13. Terlalu banyak kata 'gue' di postingan ini, Ga. Besok2 bisa lebih diefektifkan lagi kalimatnya .. Ini masukan aja sih, jangan marah sama aku ya :(

    Elo belagu ye, ngomongin sepatu sama hubungan, elo sendiri gimana?
    Udah ada hubungan sama cewek?
    Yaaah.. Semacam pacar2 gitu atau apalah namanya...


    Komen gue keren gak?
    Yah daripada cuma komen, 'asik sepatu baru...'

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes, komentar kyk gni yg gue mau. lebih pengen dikasih kometar tentang kualitas tulisannya sih, drpd tanggepan tentang apa yg gue tulis, muhuhehehe.

      Delete
  14. ternyata banyak pelajaran yang bisa diambil dari barang2 yang ada disekitar kita ya bang?

    ReplyDelete

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter