Friday, 19 July 2013

Night Date with Her

Share it Please
Setelah sekian lama gue menanti, akhirnya bisa juga ngerasain nge-date di Malem Minggu. Setelah sebelumnya gue cuma bisa ngeliat para couple berlalu-lalang di depan rumah gue sambil ngeboncengin pacarnya, akhirnya gue bisa juga ngeboncengin someone. Sebagai jomblo, gue enggak terlalu gagal.

Night date with her. Yup, di Malem Minggu itu gue jalan bareng Nur, gebetan gue. Seneng campur bingung. Gue bingung mesti ngapain ketika jalan nanti. Maklum, gue kan biasa jalan di tempat tiap malem minggu, belum pernah jalan bareng perempuan. Apalagi bareng perempuan yang gue sayang. Jadi, wajar aja kalo nanti ketika jalan bersebelahan dengan Nur tiba-tiba gue sufle di tempat.

Malam itu gue dan Nur pergi ke acara “Grand Final Nok dan Kacung Cirebon 2013.” Jadi, itu merupakan acara pemilihan duta pariwisata Kota Cirebon. Kalo di Jakarta namanya Abang None. Acara tersebut diselenggarakan di sebuah hotel. Baru kali ini gue masuk ke sebuah hotel, bareng perempuan lagi. Enggak papa deh. Gue suka norak kalo masuk ke sebuah tempat yang asing. Jadi suka celingukan gitu. Untung ada Nur, jadi gue enggak celingukan sendirian.

Kami masuk ke sebuah Hall Converstion Center. Begitu masuk, gue langsung melihat sekitar. Gue celingukan sambil mangap. Untung Nur cekatan langsung mengelap iler gue yang perlahan mengalir keluar dengan kerah baju gue. Gila, tempatnya luas banget. Saking luasnya, gue rasa bisa dipergunakan untuk arena pacuan kuda.

Kami segera mencari tempat duduk. Dan akhirnya kami pun mendapatkan tempat duduk di... baris kedua dari belakang. Huh! Padahal gue pengen banget duduk di barisan depan, supaya bisa melihat kontestan dengan jelas. Tapi apa daya, gue dateng telat dan akhirnya kebagian kursi barisan belakang. Nasib!

Tapi, duduk di belakang enggak buruk-buruk banget. Gue dan Nur bisa leluasa ngobrol tanpa risih dengan penonton yang lain. Iyah, barisan kursi yang kami tempatin itu enggak penuh.

Enggak lama kemudian acara pun dimulai. Para kontestan mulai memasuki Hall Converstion Center dengan berbaris rapih. Mereka berjalan sangat pelan, sangat anggun, dan sangat menawan. Gue jadi minder. Mereka ganteng-ganteng, pasangannya juga cantik dan anggun-anggun sekali. Untuk mengikuti ajang duta pariwisata tersebut, salah satu syaratnya adalah selain pinter, juga harus berpenampilan menarik. Bahasa kasarnya, “Mereka harus ganteng-ganteng dan cantik-cantik.” Mereka juga harus mengikuti seleksi ketat. Banyak dari mereka yang berguguran karna enggak lolos seleksi. Kebayang kalo gue ikut mendaftar. Palingan baru juga mendekati stand panitia pendaftaran, gue langsung didiskualifikasi karna muka gue yang enggak manusiawi.

Acara tersebut berlangung sangat seru. Banyak tarian atau pun musik-musik tradisional yang ditampilkan saat itu. Suasananya jadi mirip seperti hajatan di kampung-kampung. Gue jadi inget ketika gue kondangan ke sebuah hajatan, lalu musik tradisional di situ diputar sangat keras sehingga gue harus teriak-teriak di telinga orang yang gue ajak ngobrol. Saking berisiknya musik disitu.

Well, satu per satu kontestan mulai menaiki panggung. Mereka mulai di-kepo-in sama pembawa acara. Iyah, mereka ditanya-tanya terus oleh pembawa acara. Contohnya pertanyaan seperti ini, “Potensi pariwisata di Kota Cirebon cukup besar. Menurut anda, bagaimana cara memaksimalkan potensi pariwisata di Kota Cirebon?”

Atau pertayaan seperti, “Perekonomian adalah ukuran dari kemajuan suatu daerah. Menurut anda, berapa harga elpiji 3 kg di Minimarket Haji Muhidin?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mesti dijawab oleh peserta. Di samping itu, jawaban-jawaban mereka cukup keren, cukup intelek. Intinya mereka semua keren! Hm, tapi gue enggak terlalu memerhatikan para kontestan. Karna yang menarik perhatian gue saat itu cuma Nur.

Untuk mencairkan suasana, gue sesekali ngobrol dengan Nur. Cukup banyak yang kami bicarakan. Tapi ada satu yang berkesan bagi gue. Tuhan menciptakan kebetulan yang so sweet diantara kami di tengah-tengah obrolan. Saat gue lagi asik ngorbrol dengan Nur, tanpa sengaja gue melihat ke sebelah kiri. Di situ ada seorang bapak yang cukup tua. Dia bersama istrinya. Iyah, mereka sepasang suami-isteri. Posisi duduk mereka pun bersebelahan, sama persis seperti gue dan Nur. Gue heran, di baris itu masih ada beberapa kursi yang kosong, tapi anehnya enggak ada orang lain yang mengisi baris itu. Jadi baris itu cuma ditempati dua pasang manusia: gue dan nur, dan bapak beserta istrinya itu. Sesekali gue melirik ke mereka. Mereka sangat serasi. Mereka terlihat kompak, manis, dan romantis walaupun mereka sudah bukan pasangan muda lagi. Gue jadi berpikir seolah-olah mereka itu cerminan nanti kalo gue dan Nur sudah tua. Gue jadi kebayang, mungkin enggak ya gue dan Nur bisa menjadi seperti mereka: bersama-sama sampai tua. Hm, berapa tahun lagi ya gue dan Nur menjadi seperti mereka. Gue coba bilang ke Nur,

“Nur, kamu liat bapak sama istrinya yang disebelah kita itu enggak?”

“He’em. Kenapa?”

“Berapa tahun lagi ya kita bakal kayak mereka?”

“Hihi, dasar!” Nur cuma ketawa geli.

Yup, gue tahu itu kebetulan. Tapi bagi gue itu kebetulan yang so sweet!

Enggak terasa jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Gue melihat wajah Nur, dia sepertinya sudah mengantuk.  Gue lihat perut gue, sepertinya dia sudah meronta-ronta minta diisi. Iyah, gue laper. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang walaupun acara belum selesai.

Malam itu kami berkendara dengan Motor Supra Fit gue. Kami menelusuri udara malam yang dingin. Dinginnya sampe nembus ke dalem kolor.  Berrrr!! Kasian Nur, pasti dia kedinginan. Hm, gue takut alergi dinginnya kambuh. Nanti bisa-bisa dia bentol-bentol.

Di jalan, kami sambil mencari tempat makan yang enak. Dan akhirnya kami singgah di pedagang nasi goreng pinggir jalan. Suasananya sangat sepi. Baru kali ini deh gue di luar rumah sampe larut malem begini. Iya, gue tau. Lo semua pasti ngejek gue ini cupu kan karna gk pernah jalan malem! Iya gue memang cupu! CUPU! Huhu....

Setelah pesanan nasi goreng kami jadi, gue langsung makan dengan lahapnya. Di dalam nasi goreng itu ada nasi goreng (tentunya), sosis cincang, baso, sayur sawi dan acar. Hm, yummy. Gue suka banget sosis, baso juga, acar dan sayuran juga. Pokoknya gue suka semua jenis makanan. Apalagi makanan yang gratisan. Haha.

Tapi sayang Nur enggak suka acar. Gue baru tahu saat itu.

“Ga, aku enggak suka acar. Nih, kamu mau enggak?” Nur menawarkan acarnya ke gue. Karna gue suka acar, gue terima ajah.

Suasana ini persis seperti adegan di film favorit kami, Mika. Film tersebut menceritakan seorang cowok bernama Mika yg terjangkit HIV/AIDS. Dia jatuh cinta dengan cewek bernama Indi yang punya kelainan tulang belakang, Skoliosis. Salah satu adegan dalam film tersebut adalah ketika Mika dan Indi makan pizza bareng, namun Indi enggak menghabiskan bagian pinggir pizza tersebut. Dia enggak suka karna bagian pinggir pizza itu keras. Akhirnya Mika yg menghabiskannya. Saat itu Mika bilang,

“Mulai sekarang, bagian pinggir pizza ini jadi makanan favorit aku.” Nah, gue jadi terinspirasi oleh Mika.

Akhirnya gue pun bilang ke Nur, “Mulai sekarang, acar di nasi goreng ini menjadi makanan favorit aku.”

Setelah itu kami senyum-senyum unyu dan saling melirik. Kami tahu bahwa ini seperti adegan di Film kesukaan kami. Nur pun akhirnya menjawab, “Dasar korban film Mika!”

“Haha.” Jawab gue.

Yaa, kejadian gue dan Nur dengan kejadian di Film Mika itu beda tipis kok. Kalo Mika menghabiskan pinggiran pizza, kalo gue menghabiskan acar di nasi goreng. Beda tipis kan?

Selesai makan, kami lanjut berkendara. Gue mengantarkannya dulu ke kost-an-nya lalu lanjut pulang. Jam menunjukan pukul dua belas malam. Berrr! Udara makkin dingin. Gue juga mulai resah jam segitu masih di luar rumah.

Di perjalanan ke kostan Nur, gue batuk-batuk. Dan enggak lama gue merasa mual. Persis seperti orang hamil. Gue enggak tahu siapa yang menghamili gue. Beberapakali gue seperti mau muntah, “Hoeekkk. Hoekk. Uwleee.” Nur coba menenangkan gue. Dia pukul-puklul manja punggung gue. Mungkin dia pikir gue keselek acar kali yak. Lalu dia tanya gue,

“Kamu kenapa?”

gue jawab, “Enggak tau nih!”

“Mau pake minyak kayu putih aku?”

“E-enggak usah.”

Gue merasa diperhatikan oleh Nur. Seneng rasanya walaupun cuma ditanya dan ditawari minyak kayu putih. Mungkin Nur enggak tahu, saat itu gue senyum-senyum sumringah di tengah-tengah penderitaan mual gue. Yup, itu karna perhatian sederhana dari Nur. Biasanya gue mual seperti itu ketika gue gerogi, atau kedinginan. Mungkin saat itu gue kedinginan, jadi mual-mual gitu deh.

Akhirnya sampai juga di kost-annya. Gue lanjut pulang karna malam sudah larut. Dan sepertinya Nur juga sudah ngantuk berat. Gue pengen dia cepet istirahat.

Gue melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Bahagia rasanya bisa menghabiskan waktu malam itu bareng Nur. Hm... gue nyaman dengan dia. Pengen rasanya sering-sering menghabiskan waktu bareng dia, di Malam Minggu.

16 comments:

  1. nur yang mana sih ga, kenalin dong haha

    ngomong-ngomong si agung juara gak???

    ReplyDelete
    Replies
    1. ciee........ udah nggak jomblo lagi niiiiyyyy..... udah nggak galo lagi niy..

      masuk akngin kali krn saking nggak pernah keluar malem. makanya mual..


      eh fotonya manaaaaa??????

      Delete
  2. Gue bisa ngebayangin bang gimana dinginnya malam itu sampai menembus kolor. Pasti dingin bangt, kolornya keren ada ACnya.

    Semoga apa yang lo rasain juga sama apa yang dirasain Nur. Oh iya, salamin ke Nur, yang tabah :))

    ReplyDelete
  3. ciyeee..langgeng aja deh yaa sama si nur, jadi inget pertama kali pacaran dulu, dan sekarang udah 4 tahun aja, waktu memang pembunuh paling kejam :))

    ReplyDelete
  4. ciyeee... akhirnya sebuah penantian jomblo nih
    jomblo naik kelas..:)

    ReplyDelete
  5. gue doain semoga Nur baca ini...terus kalian jadian, dan 45 tahun lagi kalian bakal jadi sepasang orang tua yg kalian liat tadi...AaMmiin.

    ReplyDelete
  6. cieee yg bikin orang envy dengan cerita ngedate di malam minggu, ciee semoga si Nur baca ini postingan biar kalian jadian :D

    ReplyDelete
  7. Hasyaaaah :D
    Yang hatinya lagi berbunga-bunga~
    Eh mana pic nya si Nur? (¬˛ ¬ ”)
    Harus bukti valid donk, jangan cuma cerita aja ..

    Jadi kapan elo mau ngomong sayang ke dia? Mau ngungkapin semuanya?

    ReplyDelete
  8. kok kayak film mika, berati elo pengen kena penyakit itu dong hahaha, wah wah parah elo

    ReplyDelete
  9. Ciyeee ciyeee akhirnya sebuah artikel tentang ketidak jombloan XD
    huahahahahahahah BE penuh artikel dengan kejombloan...

    belom jadian tpi ya? majang foto asik kali XD

    ReplyDelete
  10. mungkin si nur ketawa geli karena dia juga pengen kayak bapak dan istri yg disebelah kalian :D
    kenapa gk sklian pasang fotonya nur aja di postingan ini hhaa

    ReplyDelete
  11. cie cie cie. .
    Akhirnya berani mengungkapkan isi hati, walopun itu hanya sebuah guyonan, *mungkin aja*

    langsung tembak ya? Semoga berhasil.

    ReplyDelete
  12. ecieee yang malmingan ciee.. #jadiGalau

    ReplyDelete

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter