Saturday, 13 April 2013

Membuat Cerpen

Share it Please
Selama ini gue selalu menulis literature diri gue dengan gaya santai, enggak formil. Mencritakan keabsurdan hidup gue seperti kesialan yang bertubi-tubi awal-awal kuliah, dicuekin gebetan pas ngobrol, sampe pengalaman cukur rambut gegara diancem dosen. Nah, karna itu gue mau mencoba hal yang baru. Gue pengin nulis cerpen. Dan kali ini penulisannya dengan gaya formal, layaknya cerpan sastra gitu deh. Gue terinspirasi dari tulisannya Agnes Davonar di blognya. 

Alhasil gue habiskan waktu seminggu buat ngegarap ni cerpen. Gila yah, ternyata bikin cerpen, yang jalan ceritanya dikarang sendiri, itu susahnya setengah mati. Beda banget dengan menulis pengalaman pribadi. Gue sampe beberapa kali stuck gegara susah nemuin kata-kata yang pas. Pokoknya gue salut deh dengan para penulis cerpen atau novel di luar sana. Mereka punya imajenasi yang dahsyat.


Cerpennya lumayan panjang sih. Kalo dikonversiin ke Mc. Word, bisa sampe delapan halaman. So, buat lo yang enggak biasa baca artikel panjang, mending stop sampe disini, jangan dilanjutin. Takut enggak kuat, haha.

Well, here is my first short story with the title: Terimakasih Diana

Aku mecintai keluargaku. Bagiku keluarga adalah bagian yang paling penting dalam hidup. Karna aku merasa nyaman, aku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri. Dirumah, bersama keluarga membuat penatku hilang.

 Ibu dan ayah adalah pedagang yang handal. Ibu berjualan makanan di rumah dan ayah berjualan martabak di taman kota. Kemudian adiku, Rudi yang masih kelas tiga SMP, juga sama dengan ayah dan ibu, dia memiliki bakat berdagang. Ya walaupun seringnya dia rugi sendiri tiap berdagang dan akhirnya bangkrut. Contonya adalah bisnis pulsa miliknya. Bisnis jual-beli pulsanya tidak bertahan lama karna yang ada malah dia pergunakan untuk mengisi pulsanya sendiri. Sesuatu yang konyol!

Kami adalah keluarga Chinese, bermata sipit dan berkulit putih. Tapi lucunya, aku malah berkulit gelap dan berambut sedikit keriting. Kata ibu, aku mewarisi sifat kakek. Beliau sudah tiada ketika aku masih dalam kandungan. Jadi aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan beliau. Kakekku adalah asli orang jawa, dengan kulit coklat. Beliau menikah dengan nenekku yang notabene keturunan Chinese. Ibu juga bilang bahwa seluruh paman dan bibiku mewarisi sifat nenek, Chinese. Jadi hanya aku yang mewarisi sifat fisik kakek.

Ibu adalah orang yang senang sekali memasak. Beliau adalah koki terhebat di rumah. Bahkan makanan biasa, seperti tempe, tahu, atau sayur, bisa ibu olah dengan baik sehingga menjadi makanan yang sangat sedap. Dengan kemampuan masak yang tidak kalah dengan Chef Juna itu, ibu membuka usaha dagang makan kecil-kecilan di rumah. Selain ibu, ayah juga jago dalam memasak. Ayah jago membuat martabak. Bagiku, martabak ayah selalu lebih enak daripada martabak buatan pedagang lain.

***

Seperti biasa, aku berangkat sekolah dengan terburu-buru. Jarak antara rumahku dengan sekolah memang lumayan jauh: sekitar dua puluh lima kilometer. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai sekolahku sekitar tiga puluh menit. Aku memang sering tidur larut malam dan akhirnya  bangun tidurpun aku kesiangan. Bagaimana tidak, pukul setengah enam aku baru bangun. Jadilah begitu bangun tidur aku langsung mandi kilat, sesudah itu solat subuh, tentunya dengan tergesa-gesa. Lalu sarapan pun sering tidak ku habiskan, saking takut terlambat. Akhirnya pukul setengah tujuh aku baru keluar rumah.

Sesampainya disekolah, aku langsung memarkirkan motorku dan bergegas berlari menuju kelas. Aku sempat bertemu dengan Diana yang sedang berdiri di depan kelasnya. Dia terlihat begitu anggun dan manis. Rambutnya panjang dikuncir dan menggunakan kacamata. Aku terpana beberapa detik dibuatnya. Diana adalah teman sekelasku ketika kelas sepuluh. Saat itu aku sudah suka dengannya. Tapi aku bingung cara mengungkapkannya. Untuk mendekatinya saja aku malu. Ketika kenaikan kelas, kita berpisah. Aku masuk jurusan IPS, sedangkan Diana masuk jurusan IPA.

Aku memutuskan masuk jurusan ilmu sosial karna aku suka dengan menulis. Aku suka dengan segala hal yang berkaitan dengan sosial. Aku ingin menjadi jurnalis, meliput dan mengangkat nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat. Berbeda dengan ayah dan ibu yang senang berdagang. Justru aku payah sekali untuk berdagang.

Selama kelas sebelas, aku tetap suka dengan Diana. Namun aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Begitu juga sekarang. Tapi, kali ini aku akan berusaha untuk mendekatinya. Aku harus menyatakan perasaanku kepadanya sebelum kami lulus tahun ini.

Aku memiliki teman-teman yang menyenangkan dikelas. Tapi ada satu anak yang begitu menyebalkan. Dia sering mengganggu anak-anak yang lain, termasuk aku. Reza adalah anak nakal. Dia sudah beberapa kali terlibat masalah sehingga dipanggil guru BP (Bimbingan Konseling). Dia suka memalak, sembunyi di kantin ketika upacara bendera, bahkan berkelahi dengan penjaga sekolah karna telat dan dilarang masuk gerbang.
Ketika waktu stirahat tiba, Reza menghampiriku. Dia meminta uang kepadaku,

“Agus, aku belum merokok hari ini.”

“Lalu kenapa?” jawabku.

“Ya aku minta uang, untuk membeli rokok”

“Tapi, aku tidak punya uang, Za”

“Kamu jangan bohong, kalo aku periksa dan ternyata kamu punya uang, aku akan mengambil semua uangmu” Reza mengancamku.

Akhirnya ku berikan lima ribu rupiah uangku padanya. Lalu dia pun pergi tanpa berterimakasih sama sekali. Aku sudah lama kesal dengan sikapnya. Dia sering sekali memintai uang kepadaku dan juga anak-anak yang lainnya. Aku tidak habis pikir. Dia benar-benar membuatku jengkel. Aku yakin teman-teman yang lainpun merasa jengkel padanya. Huh, pokoknya hari itu membuatku bad mood.

Sudahlah, kalau sudah bad mood begini, aku jadi ingin cepat pulang. Dirumah, bertemu ibu, ayah, dan Rudi membuatku lupa dengan permasalahan di sekolah. Rasa bad mood-ku seketika hilang jika sudah bercengkrama dengan mereka. Suasana dirumah memang selalu menyenangkan.

Sesudah jam sekolah berakhir, aku langsung pulang. Sayangnya kali ini aku tidak berpapasan denan Diana. 
Sesampainya di depan rumah, aku lansung mengetuk pintu. Kemudian orang yang membukakan pintu untukku pasti selalu orang yang sama, ibu. Beliau membukakan pintu, lalu senyum. Moment seperti ini adalah salah satu hal yang membuatku lupa dengan permasalahan di sekolah. Ketika sampai dirumah, lalu disambut oleh senyum ibu, aku merasa lega.

Setelah menaruh tas dan mengganti baju seragamku, aku langsung menyantap makan siangku yang sudah ibu siapkan. Makanan kesukaanku, telur dadar cabe rawit dan sayur bayam. Setelah makan, aku langsung istirahat, lumayan ada beberapa jam yang bisa ku pergunakan untuk merilekskan badanku dan merefresh pikiranku sebelum aku berangkat membantu ayah berjualan di taman kota.

Menjelang pukul lima sore, aku membantu ayah menyiapkan peralatan martabak untuk berdagang ke taman kota. Sekitar pukul setengah enam sore ayah berngkat ke taman kota.

Aku akam menyusul ayah sesudah waktu isya. Soalnya pembeli akan ramai menjelang pukul delapan malam. Jadi, tugasku hanya menjadi asisten ayah, yakni menyiapkan bungkus martabak, melayani pembeli yang ingin membayar dan memesan martbak, serta menyiapkan minuman bagi pelanggan yang ingin makan ditempat.

Oya, ada juga pembeli yang memesan martabak ayah melalui SMS. Dia hanya memesan, kemudian minta diantarkan ke alamatnya. Itupun tugasku, mengantarkan martabak ke alamatnya.

Sebenarnya aku malas membantu ayah berjualan. Aku ingin ketika pulang sekolah, aku istirahat, lalu mengerjakan tugas sekolah yang seabreg dan malam harinya tidur dengan nyenyak tanpa harus tidur larut malam. Namun aku tidak tega membiarkan ayah berjualan sendirian. Berat rasanya jika ayah harus melayani pembeli sendirian, ketika sepi pembeli, nanti ayah bagaiamana, lalu yang paling membuatku sedih jika membayangkan ayah berdagang sendirian adalah ketika ayah pulang sesudah berdagang sampai larut malam. Rasanya seperti membiarkan ayah berjuang sendirian untuk menghidupi keluargaku.

Bagaimanapun aku paksakan diriku untuk membantu ayah. Lagi pula aku selalu merasa puas jika sudah membantu ayah. Aku merasa lega dan merasa sudah melakukan hal yang benar.

***

“Gus, tolong antarkan martabak ini ke rumah Bu Ratna. Alamatnya di jalan Mawar, rumahnya berwarna biru” pinta ayah kepadaku untuk mengantar pesanan martabak. Akupun mengantarkan martabak hangat yang baru saja matang tersebut ke alamat yang dimaksud. Ketika aku menemukan alamatnya, aku langsunng mengetuk pintunya. Tidak lama kemudian keluarlah seorang ibu muda. Dalam hatiku, ini pasti Bu Ratna.

“Permisi, Bu. Ini pesanan martabaknya” kataku sambil menyodorkan martabak yang dibungkus dan berusaha sesopan mungkin.

“Oh, iya. Makasih ya, Nak. Sebentar, Ibu ambil dulu uangnya” ucap Bu Ratna dengan senyum. Sepertinya dia ramah dan baik.

Setelah menunggu hampir satu menit, keluarlah seorang perempuan. Tapi kali ini bukan Bu Ratna. Perempuan tersebut beramput panjang diikat, dan berkacamata. Setelah ku perhatikan, sepertinya aku kenal. Ternyata itu adalah Diana. Dia mendekatiku dengan membawa uang untuk membayar martabak. Aku merasa gerogi, dan canggung. Semakin Diana mendekat ke arahku, semangit jantungku berdegup kencang.

“Eh, Agus, kok di sini?” tanya Diana heran.”

“I-iyah, tadi aku yang mengantarkan martabak”

“Oh kamu, ya ampun. Ternnyata martabak yang biasa aku makan itu buatan kamu? Wah, rasanya enak sekali, Gus!”

“I-iyah, itu ayahku yang membuatnya” jawabku gelagapan.

“Oh. Oya, ini uangnya. Salam ya buat ayahmu”

“I-iyah, terimakasih. Iya nanti aku  salamkan ke ayah. Oya, salam juga untuk ibumu tadi yah” aku memberanikan diri untuk menitipkan salam ke ibunya. Diana pun hanya tersenyum menanggapi perkataanku barusan. Oh ya Tuhan, senyumnya manis sekali. Manisnya berkali-kali lipat dari yang biasa kulihat di sekolah. Baru kali ini aku melihat senyumnya dari jarak sedekat ini.

***

“Yah, aku sudah mengantarkan martabaknya. Katanya martabak ayah enak.” Ayah hanya senyum menanggapi perkataanku sambil mengaduk-aduk adonan martabak. Malam itu aku jadi senyum-senyum sendiri. Rasanya bahagia sekali hanya karna menatap senyumnya. Jika aku sudah menjadi kekasihnya, yang setiap saat bisa berbincang dengannya, memerhatikan senyumnya lebih dalam, mungkin kebahagiaanku akan berjuta-juta kali lipat lebih daripada yang sekarang.

Malam itu aku pulang sekitar pukul setengah satu malam, karna tadi pelanggan martabak ayah cukup banyak sampai larut malam. Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan diri di kasur. Aku masih terbayang-bayang wajah Diana. Sepertinya malam ini aku akan susah tidur.

***

Keesokan paginya aku berangkat sekolah seperti biasa, terburu-buru. Sesampainya di sekolah, aku sengaja memutar rute ke kelasku agar melewati kelas Diana. Aku menelusuri lorong kelas dengan langkah gontai. Sesampainya didepan kelas Diana, aku melambatkan langkahku. Aku melirik dan mencuri pandang ke dalam kelas Diana ketika aku melewati pintu kelasnya yang terbuka lebar. Aku melihat Diana yang sedang duduk di bangku paling depan. Posisinya membelakangiku sambil mengobrol ria dengan teman sebangkunya. Walaupun aku hanya bisa melihat punggungnya, aku sudah sangat senang.

Hari ini, aku ingin mengajak Diana makan bersama di kantin. Aku ingin mengatakan padanya perasaanku selama ini. Aku ingin dia tahu bahwa selama dua tahun aku suka padanya. Aku tidak peduli apa yang nantinya akan dia katakan, yang jelas dia harus tahu bahwa aku suka padanya. Walaupun nantinya dia menolakku, aku akan terima. Buatku bisa menyayanginya dan berada disebelahnya sudah membuatku bahagia.

Jam menunjukan pukul sepuluh, bel istirahat pun berbunyi, ini waktunya untukku mengajak Diana makan. Aku mulai beranjak dari kelas, menuju kelas Diana. Aku merasa gugup dan timbul bayangan-bayangan dibenakku. Aku bergumam: apa yang nanti harus kukatakan untuk mengajaknya makan, bagaimana jika nanti dia menolak ajakanku, atau bagaimana jika ternyata Diana malah lebih ingin makan dengan teman-temannya. Duh, pikiranku kemana-mana.

Sesampainya dikelas Diana, aku melihat dia sedang berdiri di depan pintu. Aku diam sebentar, memandangi wajahnya dari kejauhan. Senang rasanya bisa melihat dia, walau dari jarak jauh. Aku berusaha mengumpulkan segenap keberanian. Sedikit nervous memang. Sesekali aku menarik dalam-dalam nafas melalui hidungku, lalu ku hembuskan kencang lewat mulut.

Akhirnya pun Aku memberanikan melangkahkan kaki mendekatinya.

“Hai Diana.”

“Eh, kamu, Gus. Ada apa?”

“Hm... makan yuk!”

“Tumben sekali mengajakku. Hm... baiklah, ayo!”

Sesampainya di kantin, aku membuka pembicaraan dengan bertanya tentang pelajaran sekolah. Cukup banyak aku bertanya padanya, mengingat jurusan kita yang berbeda. Diana juga bertanya tentang pelajaran-pelajaran IPS padaku. Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba aku diam, menunggu saat yang pas untuk menyatakan perasaanku padanya.

“Jadi, pelajaran Sejarah masih dipelajari di jurusan IPA, Gus. Tujuannya mungki...”

“Diana” aku memotong. “Aku mau ngomong sesuatu!” aku menatap wajahnya dalam.

“Mau bilang apa, Gus, sampai ijin segala?” jawabnya sambil tersenyum lebar.

“Hm... aku suka kamu, Na” kataku, “sejak kita kelas sepuluh. Kita bisa kan jadi pacar?”

Mendengar kata-kataku, Diana hanya tersenyum. Disisi lain aku masih menunggu apa yang akan dia katakan padaku. Dengan jantung yang berdebar kencang, perlahan aku menyodorkan tanganku, menggengam tangannya. Aku menatap wajahnya, meyakinkan dia akan perasaanku.

“Aku juga suka kamu, Gus”

Seketika itu kami saling senyum, senyuman yang merkah. Aku senang ternyata Diana juga merasakan hal yang sama. Pagi itu, aku sangat bahagia.

***

Aku tidak sabar menunggu jam sekolah selesai. Ingin sekali rasanya segera bertemu Diana. Padahal tadi pagi baru saja bertemu dengannya. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta, perasaan rindu jadi berkali-kali lipat rasanya. Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Aku sesegera mungkin keluar kelas dan langsung menuju kelas Diana untuk mangantarkannya pulang dengan motor andalanku.

Aku mengantarkannya sampai ke depan pintu rumahnya. Di pintu, ibunya menyambut dengan senyum. Wah, beruntung sekali Diana memiliki ibu yang seperti Bu Ratna, beliau sangat ramah dan sepertinya sangat penyayang. Tapi, aku juga beruntung memiliki ibu seperti ibu ku. Ibu adalah orang yang paling dekat denganku dan mengerti aku.

Aku sempat mampir sebentar sebelum pulang dan berbincangl sesaat. Aku bertanya tentang keluarganya, ibunya. Tapi dia hanya senyum, tidak menjawab sepatah katapun. Lalu dia malah bertanya balik kepadaku. Aku pun menceritakan semua tentang ibu, ayah, dan Rudi. Kami tertawa beberapa saat ketika aku menceritakan kelakuan Rudi yang selalu gagal berdagang. Hari itu adalah hari yang membahagiakan buatku. Bukan sekedar senyum yang ku lihat, tapi juga tawanya yang lepas. Aku bahagia sekalli.

***

“Gus, ayo cerita sama ibu!”

“Cerita apa, Bu?”


“Kamu kenapa senyum-senyum terus?”sepulang sekolah, aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku. Aku kepikiran moment-moment bersama Diana tadi siang. Itu membuatku senyum-senyum seharian.

“Ah, bukan apa-apa kok, Bu, hehe.” jawabku mengelak, sambil senyum-senyum.

“Yasudah, itu artinya kamu sudah dewasa kalo sudah jatuh cinta”

“Loh? Kok ibu tahu?” aku heran mengapa ibu bisa tahu.

***

Pagi-pagi sekali aku berangkat sekolah. Aku berusaha bangun sepagi mungkin, karna aku ingin menjemput Diana, kekasihku, untuk berangkat ke sekolah.

Aku tiba di depan rumahnya. Lagi-lagi ibunya yang membuka pintu untukku. Dan seperti biasa, beliau menunjukan senyum ramahnya. Senyum yang membahagiakan orang yang melihatnya, sama seperti anak perempuannya.

Tak lama kemudian, Diana keluar, kemudian dia berpamitan dengan mencium tangan ibunya. Begitu juga aku, berpamitan pada Bu Ratna.

“Ibu kamu murah senyum, persis seperti kamu! Hehe” kataku pada Diana sesaat sebelum menaiki motorku. Tapi seperti biasa, dia hanya senyum menanggapinya. Senyum yang sedikit datar. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.

Sudah hampir tiga bulan aku bersama Diana dan sudah tidak terasa sebentar lagi ujian akhir semester ganjil. Banyak hal yang sudah kita lalui. Kami makin mengenal pribadi satu sama lain, bagaiamana kebiasaan kami, apa saja kesukaan kami masing-masing. Tapi, dari sekian hal yang ku tahu darinya, dia tidak pernah menceritakan tentang keluarganya. Setiap aku menyinggung tentang keluarganya, dia selalu mengalihkan pembicaraan. Seolah dia tidak ingin aku tahu. Ah, tapi aku tidak mau ambil pusing. Mungkin saja dia belum ingin menceritakan keluarganya. Yang jelas, ibunya ramah sekali dan sepertinya menerimaku dengan baik.

***

Beberapa bulan ini sikap ibu dan ayah sedikit berbeda. Kini mereka sangat memerhatikan Rudi. Semenjak dia kelas tiga SMP, dia jadi selalu diperhatikan berlebih oleh ibu dan ayah. Mungkin karna dia sebentar lagi akan masuk SMA, jadi ibu dan ayah mempersiapkan segalanya  agar Rudi bisa sekolah di SMA yanng terbaik.

Tapi, seharusnya itu juga terjadi padaku, karna aku akan lulus SMA tahun ini, dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Malah seharusnya aku yang lebih diperhatikan, mengingat persaratan masuk ke perguruan tinggi lebih rumit ketimbang masuk SMA dan tentu membutuhkan persiapan yang matang. Ah, tapi aku juga tidak mau ambil pusing tentang ini. Aku yakin, ini adalah cara ibu dan ayah membuatku mandiri. Agar aku bisa leluasa menentukan ke universitas mana aku  akan melanutkan study.

***

Menjelang ujian akhir smester, sekolahku libur. Para guru akan mengadakan rapat untuk mempersiapkan ujian. Walaupun hanya libur satu hari, aku senang. Karna aku bisa bertemu Diana dan menghabiskan waktu seharian dengannya.

Libur hari ini aku dan Diana berencana belajar bersama untuk mengulas materi-materi di sekolah dalam rangka persiapan ujian akhir. Kami akan belajar di rumah Diana.

Sebelum berangkat, aku berpamitan terlebih dahulu pada ibu dan ayah. Aku menghampiri ayah dan ibu di dapur, lalu aku bilang bahwa aku ingin pergi belajar kelompok di rumah teman. Ketika aku beranjak melangkahkan kaki di depan pintu, tapi tiba-tiba aku sakit perut. Dengan segera aku berbalik badan, dan pergi ke kamar mandi. Mungkin ibu dan ayah mengira aku sudah berangkat.

Letak kamar mandiku berdekatan dengan dapur. Jadi, jika aku ingin menuju dapur, aku terlebih dahulu melewati kamar mandi. Pintu kamar mandiku terbuat dari alumumunium tipis, sehingga suara dari dapur bisa terdengar jelas kedalam kamar mandi.

Ketika aku sedang di kamar mandi, aku mendengar ibu dan ayah sedang berbincang didapur. Ayah memang begitu, suka membantu ibu memasak, karna beliau berdua adalah jago memasak. Sepertinya mereka berbincang mengenai bumbu masakan yang harus digunakan saat itu. Tetapi tiba-tiba ibu bilang,

“Yah, kapan kita memberi tahu Agus?”

Aku bingung ketika mendengar perkataan itu. Aku tidak tahu apa yang hendak ingin ibu katakan. Aku juga tidak tahu maksud kata-kata beliau. Apa yang ingin diberitahukannya padaku? Gumamku dalam hati.

“Mungkin memang sudah saatnya, Bu. Agus sudah dewasa sekarang, dia harus segera tahu.” Kata Ayah yang kudengar dari balik kamar mandi menanggapi pertanyaan ibu.

“Tapi apa dia bisa menerima kalo dia sebenarnya anak angkat?”

Sampai dengan perkataan ibu barusan, aku tertohok. Aku kaget dan tak pernah menyangka akan hal ini. Aku seolah tidak dapat mendengarkan percakapan mereka selanjutnya, yang ku rasakan adalah hening. Aku yakin pasti aku salah dengar. Aku pasti anak kandung ayah dan ibu. Pasti! Aku pun keluar kamar mandi, kemudian menuju ke dapur, menghampiri mereka.

“Bu, Yah!” kataku dengan pelan dan letih.

“Agus? Bukannya kamu sudah berangkat belajar kelompok?” ibu melihat kearahku, dengan ekspresi kaget ibu melirik ke arah ayah.

“Apa itu benar, Bu?”

“Gus, kemari, dengarkan ayah.” Kata ayah sambil berusaha mendekatiku. Saat itu aku mundur perlahan, menghindari ayah. Semangikin ayah mendekat, semakin aku mundur dan akhirnya aku berlari, pergi keluar rumah. Aku menusuri jalan dengan pikiran melayang. Seketika itu aku merasa sendiri. Aku merasa tidak memiliki siapapun di kehidupan ini. Rasa nyaman dan damai terhadap keluargaku menguap begitu saja dan berubah menjadi rasa canggung, malu, dan kecewa. Aku tak habis pikir, mengapa hidupku seperti cerita sinetron di TV. Aku kira hal seperti ini hanya ada di televisi.

***

“Ada apa, Gus? Mengapa kamu murung begitu?” saat ini aku bersama Diana, dikantin setelah pulang sekolah. Suasana kantin sangat sepi.  Semenjak mendengar percakapan ayah dan ibu kemarin, aku menjadi sering diam. Aku tidak pernah ingin berbicara banyak. Tiap aku dirumah, aku selalu bersikap cuek dengan ayah dan ibu. Bahkan ketika ibu seperti biasa menyambut dan membukakan pintu untukku sepulang sekolah  dengan senyum, aku hanya diam dan berlalu tanpa membalas senyumnya. Bukan berarti aku marah dengan mereka, aku hanya canggung dan malu karna tahu bahwa aku bukan siapa-siapa mereka.

 “Hm, bukan apa-apa kok, Na” jawabku sambil senyum kecut dan menunduk unntuk memalingkan pandang darinya.

“Aku tahu kamu berbohong. Ceritakan saja, apa kau tidak percaya padaku?”

Aku menarik napas. “Fyuh...” dan ku hembuskan. “Aku sayang keluargaku, Na”

“Aku tahu, mereka juga pasti sayang dengan kamu. Lalu ada apa?”

“Aku bukan bagian dari mereka.”

“Kenapa bilang begitu? Mereka itu keluargamu!”

“Aku... hanya anak angkat mereka” aku ceritakan padanya apa yang aku alami: bagaimana rasa kecwaku, dan bagaimana rasa maluku setelah tahu bahwa orang yang selama ini membesarkanku bukanlah orangtua kandungku. Kemudian Diana mencoba menguatkanku. Dia tidak ingin aku down. Kemudan dia pun bercerita,

“Bu Ratna adalah bibiku.”

Aku mengernyitkan jidat, aku sedikit heran, “Aku kira beliau adalah ibumu”

Diana menceritakan bagaimana keluarganya. Semenjak Diana bayi, ibunya sudah menjadi TKI di Malaysia untuk menghidupi keluarganya. Namun baru saja satu tahun kerja disana, beliau meninggal karna sakit keras. Semenjak ibunya meninggal, Diana ditinggal oleh ayahnya. Namun, tak lama kemudian ayahnya pergi meninggalkan Diana sebatangkara tanpa memikirkan nasibnya yang masih bayi tanpa ibu. Dan akhir-akhir ini diketahui bahwa ayahnya sudah menikah lagi. Kemudian Diana dirawat oleh bibinya. Diana tidak pernah tahu wajah orangtuanya. Ia sama sepertiku, dikecewakan karna tahu bahwa yang merawat dan menyayanginya selama ini bukanlah ibu kandungnya, melainkan orang lain. Diana memang kecewa, namun ia mampu bangkit dari kekecewaan.

“Buatku yang terpenting bukanlah siapa yang menyayangiku, tapi bagimana aku bisa menyayanginya juga sebagai orangtuaku”

Aku diam, meresapi kata-kata Diana barusan.

“Seorang ibu bukan sekedar dia yang melahirkanku, tapi seseorang yang menyayangiku layaknya seorang ibu, Gus. Begitu juga dengan ayah.”

Lagi-lagi aku hanya diam dan tetap menunduk sambil membayangkan ibu dan ayah. Tiba-tiba muncul di benakku bayangan-bayangan tentang ayah dan ibu. Bayangan ketika ibu menyambutku tiap pulang sekolah dengan senyum yang hangat. Senyum yang melegakan pikiran kacauku selama di sekolah. Juga ketika ibu menyambutku dengan masakan kesukaanku ketika pulang sekolah.

Aku ingat ayah, ketika kami berjuang bersama menjual martabak sampai larut malam. Ketika kami lapar,  kami malah memakan sendiri mertabak jualan kami. Benar-benar moment yang selalu terbayang-bayang di benakku.

Siang itu aku belajar banyak dari Diana. Aku jadi mengerti betapa perlu untuk menyayangi orang yang telah mencintai kita dengan tulus. Walaupun ibu dan ayah bukan orangtua kandungku, tapi kasih sayangnya melebihi kasih sayang orangtua kandung. Kini tidak penting lagi status mereka atau siapa mereka sebenarnya, yang jelas mereka adalah bagian hidupku yang tidak pernah bisa tergantikan.

***

“Bu, ayah, maafkan Agus”

“Kemari nak, maafkan ibu dan ayah” ibu memelukku, perlahan matanya mulai berkaca-kaca, lalu menangis sambil memelukku.

“Selama ini Ayah belum memberitahumu karna ayah khawatir kau belum bisa menerimanya. Ayah tidak ingin menyembunyikan darimu. Ayah hanya ingin mencari waktu yang tepat” kata ayah sambil mengelus bahuku.

“Agus minta maaf, Yah. Tidak seharusnya Agus begini. Harusnya Agus berterima kasih.” Aku menyesal sudah berlaku cuek dengan ayah dan ibu. Justru seharusnya aku berterimakasih dengan beliau berdua karna sudah rela menjaga dan membesarkanku.

***

Di suatu Minggu Sore yang cerah, aku dan ibu duduk bersama di teras rumah, sementara ayah sedang mempersiapkan peralatan martabak dan Rudi sedang bermain keluar. Ibu bercerita siapa aku sebenarnya,

“Dulu, ibu dan ayah kandungmu adalah teman ibu. Mereka berdua mengalami kecelakaan dalam perjalanan saat kau masih bayi” Ibu mengatakan bahwa orangtua kandungku meninggal dalam kecelakaan mobil. Saat itu aku ikut bersama mereka menemani ayah bertugas keluar kota. Namun sayang, mobil yang kami tumpangi mengalami pecah ban dan akhirnya oleng, lalu menabrak trotoar. Hanya aku yang selamat.

“Kau mirip sekali dengan ibumu, hitam manis. Dia orang jawa.”   

“Tapi, ibu bilang aku mirip kakek?” aku heran, karna setahuku, aku berkulit cokelat seperti ini karna mewarisi sifat kakek. Tapi ternyata ibu membohongiku, huh. Sebenarnya kakekku juga orang Chinese. Semua keturunan keluargaku adalah orang Chinese. Jadi aku tidak pernah punya kakek dari Suku Jawa.

“Bagaiamana renacana kuliahmu? Kau sudah mantap kan untuk mengambil jurusan jurnalistik?”

“Oh, iya, Bu tentu saja!” jawabku dengan mantap. Menjadi jurnalis adalah cita-cita besar ku. Aku suka membuat berita. Terutama terkait dengan nilai-nilai sosial.

“Hm, kamu juga sama dengan ayahmu. Dia adalah jurnalis profesional”

“Benarkah, Bu?”

“Iya, Nak. Ketika kecelakan itu, kau sekeluarga sedang menuju luar kota, menemani ayahmu meliput disana untuk beberapa hari. Kau benar-benar mewarisi sifat kedua orangtuamu, Nak”

Tanpa kusadari, senyum mengembang muncul di wajahku setelah mendengar kata-kata ibu barusan. Ada rasa bahagia tersendiri yang kurasakan. Serasa ada ayah dan ibu kandungku di dalam diriku. Aku merasakan kehadiran mereka dalam sifat-sifat yang ku punya. Aku kini memiliki dua ibu, dan dua ayah. Betapa beruntungnya aku. Mulai sekarang aku akan bangkit, menjadi orang yang terbaik untuk keluargaku. Dan tentu saja aku akan bekerja keras mewujudkan mimpiku, menjadi seorang jurnalis profesional. Seperti ayah.

Diana, terimakasih. Berkait dirimu, aku bisa bangkit, dan menjadi lebih baik dari sebelumnnya.


5 comments:

  1. nulis cerpen itu emang gak gampang...gue jg kadang kalo nulis cerpen..alur ceritanya jd ngelantur kemana.mana...
    Tp ini cerpennya bagus...
    Bersambung gak ini??kan agus dan diana belum UN..hehe

    ReplyDelete
  2. bikin cerpen selama satu minggu ?
    kalah sama Andrea Hirata, dia bikin novel cuma 3 minggu :))

    ReplyDelete
  3. Cara baru bisnis pulsa menggunakan HP Android. Download gratis aplikasi Pulsa Murah di Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.plugie.pulsamurah

    ReplyDelete
  4. nulis cerpen gampang gampang susah

    ReplyDelete
  5. kalo aku sih gampang-gampang susah bikin cerpennya. tapi sekarang udah gak pernah bikin lagi. males..

    ReplyDelete

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter