Monday, 27 August 2012

Kamu Nurul?

Share it Please

Kalo ngomongin nama orang sepertinya enggak pernah ada habisnya. Setiap daerah memiliki nama khasnya masing-masing. Misalkan Daerah Sunda, biasanya nama-nama orang sunda selalu diulang antara satu kata dengan kata lainnya, seperti Yayat Suryana, Engkos Koswara atau Adi Setiadi. Lalu, Orang  Jawa biasanya nama mereka didominasi huruf ‘O’, contohnya: Eko Surotmo, Wibowo Prasetyo atau Komodo. Dan nama Orang Papua kebanyakan didominasi dengan nama-nama aneh dan asing di telinga, seperti: Rayamadey Nikodemus, Frarans Bulgarikus, Lactobacillus Protectus. Ada juga nama orang luar negeri. Sama, nama-nama mereka enggak kalah aneh, seperti: Noeh Thomson, Andra Thomcat, Alex Suezah Boughcker (baca:aleks susah boker). Dan ada juga nama-nama yang memiliki arti yang dalam, seperti Sudibio. Nama ‘Sudibio’ berasal dari Indonesia. Jika kita cermati secara mendalam, Sudibio terdiri dari dua kata pembentuk, yaitu Sudi dan Bio.  Sudi dalam bahasa Indonesia artinya bersedia sedangkan Bio memiliki arti organisme yang hidup. Jadi, Sudibio adalah makhluk hidup yang selau bersedia, bersedia dijadikan teman, bersedia dijadikan pacar atau bersedia dijadikan selingkuhan.

Kebetulan gue adalah Orang Sunda asli. Gue lahir di Tanah Sunda tapi dibesarkan di Kota Bekasi. Jadi, gue cuma sedikit menguasai bahasa sunda. Ketika gue SD, gue memang masih bias menerima pelajaran Bahasa Sunda. Gue ngerasa gampang-gampang aja dengan Bahasa Sunda. Biasanya guru cuma ngasih tugas buat mengerjakan LKS, kemudian minggu depannya dikumpulkan. Gue selalu mengerjakan tugas dengan baik. Setiap soal yang gue hadapi langsung gue lahap. Tapi setelah menginjak bangku SMA, gue mulai menemukan kesulitan dalam Bahasa Sunda. Bahasa yang digunakan dalam pembelajaran, di LKS, maupun dalam dialog kesehariannya benar-benar menggunakan bahasa yang rumit,  asing di telinga dan belum pernah gue denger sebelumnya.
Gue pernah bertanya ke ibu mengenai satu kata dalam Bahasa Sunda yang menurut gue asing banget. Gue pikir ibu kan orang sunda asli, lahir dan besar di tanah sunda, pasti beliau bisa jawab. Tapi, malahan ibu juga enggak tau dan enggak bisa jawab. Gue jadi bingung mau bertanya kesiapa lagi. Dan pada akhirnya, karna efek dari kebingungan gue dalam memahami Bahasa Sunda, setiap ada orang yang berbicara  menggunakan bahasa sunda ke gue, kalo gue ngerti ya gue jawab. Tapi, kalo orang itu suda menggunakan bahasa sunda tingkat tinggi yang ngebingungin, biasanya gue langsung pura-pura mati atau mengeluarkan bau busuk supaya orang itu berhenti berbicara dan pergi jauh.
Gue terlahir dari sepasang ibu-bapak yang kebetulan Orang Sunda juga. Mereka temen satu SMP dulunya. Jadi seperti cinlok begitu: mereka bertemu di SMP, terpisah di jenjang SMA, kemudian beberapa tahun berikutnya dipertemukan kembali, selanjutnya saling cinta, lalu memutuskan mengikat janji sehidup-semati, dan tadaa... terciptalah makhluk super cute kaya gue ini. Selain orang tua, aki dan nini gue juga Orang Sunda. Sepupu tetangga sebelah rumah gue juga orang sunda. Satpam di sekolah gue juga Orang Sunda, lho. Pedagang babon di pasar ganteng banget!
 Gue memang orang sunda, tapi nama gue enggak berpola diulang seperti kebanyakan orang sunda. Nama depan gue ‘Nurul’, sedangkan nama tengah dan belakang gue ‘Prayoga Abdillah’ bener-bener enggak berpola diulang.
Gue bersukur sekali orang tua gue memberikan nama yang indah buat gue. Menurut gue ‘Nurul Prayoga Abdillah’ termasuk ke dalam nama modern yang bakal enak didenger. Akan terasa berbeda keindahannya ketika kita mendengar nama Kasman atau Sutarman. Gue bisa ngebayangin betapa indahnya nama gue jika suatu saat gue ikut dalam sebuah turnamen, kemudian gue keluar sebagai pemenang di turnamen itu dan nama gue dipanggil ke atas panggung untuk mendapatkan penghargaan, seperti ini: ‘Mari kita sambut juara umum turnamen adu ikan cupang tingkat kelurahan 2012 kali ini yang bertemakan Beat The Challange, Nurul Prayoga Abdillah!!’ yeahh, gue bakal seneng banget!! Nama keren gue didengar semua orang, meluluhlantahkan atmosfier persaingan saat itu dan menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Semua orang bertepuk kaki. It’s Great! Karna saking kerennya nama gue, gue yakin, orang-orang menyangka si pemilik nama kece ini pasti mukanya mirip Iko Uwais atau Stevan William.
Semua ke-keren-an nama gue menjadi-jadi, begitu juga ketika ada yang mengajak berkenalan,
‘Hai, aku Selvy. Nama kamu siapa?’ cewek ngajakin kenalan.
‘Aku NURUL!! Iyah NURUL!’ gue ngasih tau nama.
‘Ee... ka...?’ bingung mau jawab apa.
‘IYA, NURUL!! Keren, kan?’ ngotot.
‘Ka... kamu..’
‘IYA, namaku memang KEREN!!’ menggila.
‘Kamu sakit ya?’
‘BUKAN!! Kamu gimana sih?! AKU NURUL!!’ makin menggila.
‘(*)(*)’ mati.
Gue makin pede dengan nama ‘Nurul’. Gue jadi semakin bersemangat untuk menjalani hari. Dengan tampang seperti bocah yang sedang tersesat di pedalaman hutan Amazon dan dilengkapi ingus yang menjuntai indah dari sarangnya, Nurul kecil yang saat itu masih SD sudah memiliki banyak teman  di kelasnya. Tapi, semuanya berubah ketika gue mengalami sebuah kejadian yang maha tragis. Kejadian itu adalah salah satu hal yang paling mengenaskan dan sangat membekas yang  pernah gue alami dalem hidup gue.
Saat itu gue baru masuk SMP. Hari itu minggu kedua gue masuk sekolah. Sebelumnya gue ikut MOS terlebih dahulu. Setelah MOS selesai, seminggu kemudian gue mulai belajar efektif.
SMPN 05 Tambun-Selatan memiliki aturan sendiri mengenai jam masuk sekolah. Untuk kelas sembilan masuk jam tujuh pagi, kelas delapan sebagiannya masuk jam tujuh, dan sebagiannya lagi masuk jam setengah satu, sedangkan seluruh kelas tujuh masuk siang, jam setengah satu. Karna saat itu gue masih kelas tujuh, gue pun masuk siang.
Seperti biasa, gue berangkat dengan kendaraan umum, angkot. Gue berangkat dari rumah sekitar jam setengah duabelas, sampe di sekolah jam duabelas, lalu solat duhur dulu di mushola,terus lanjut masuk kelas.
Hari pertama di kelas, gue berasa asing. Gue cuma kenal Bayu, temen rumah sekaligus tetangga gue di perum. Gue duduk bareng dia. Selanjutnya gue berkenalan dengan Jabal, dia duduk di belakang gue. Lalu gue kenal Ukoy, dia duduk bareng Jabal di belakang gue.
Hari itu gue mencoba mengenal anak-anak sekelas. Enggak lama, gue mulai kenal beberapa anak. Rasa ‘asing’ itu perlahan berkurang.  Gue juga mengenal beberapa anak perempuan di kelas. Ada Nurhikmah, dia enggak terlalu tinggi, kalo berjalan sangat tegap. Satu hal yang gue inget dari dia: kalo menoleh ke samping, dia menggerakan leher dan badannya secara bersamaan. Lalu ada Vina, dia sosok perempuan yang cantik, sepertinya dia orang kaya, dan bau ketiaknya wangi sekali (lo enggak usah mikirin kenapa gue bisa tau itu). Di mata gue Vina mirip sekali dengan salah satu artis sinetron yang sering muncul di TV, Nabila Syakieb. Bahkan ketika dia nyapa gue, kadang gue ngebayangin bahwa yang menyapa gue itu bukanlah seorang Vina, tapi Nabila Syakieb. Gue jadi senyum-senyum kecil sambil merem-melek. Eh, ngeliat ekspresi gue begitu dia malah bilang, ‘Lagi sakit, ya?’

***

Beberapa menit kemudian seorang guru dateng ke kelas. Dia adalah ibu guru yang  mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Biasanya, minggu pertama di tahun ajaran baru akan selalu ada sesi perkenalan terlebih dahulu. Satu minggu itu khusus digunakan untuk perkenalan antar siswa terhadap siswa, maupun antar guru dengan para siswa.
Ibu guru mulai memperkenalkan dirinya, dari mulai siapa namanya, dimana dia tinggal, siapa selingkuhan Ariel Peterpan, sampe nama babon piaran pak kepala sekolah. Kemudian ibu guru mulai membuka buku absensi. Dia juga ingin mengenal murid-muridnya satu per satu. Dia mulai memanggil nama-nama anak-anak kelas. Gue masih inget, saat itu nomer absen gue adalah nomer 26. Jadi, ketika absensi berlangsung, gue harus menunggu sedikit lama karna nama gue ada di bagian tengah daftar absensi. Gue menunggu dengan sabar. Sesampainya di no absen 26, ibu guru pun memanggil nama gue,
‘Nurul Prayoga Abdillah?’ teriak bu guru bersemangat.
‘Saya, Bu!’ gue sambil mengacungkan kaki. Kemudiann bu guru terdiam. Gue pun menunggu jawaban dari bu guru. Dia masih aja diem dan belum juga ngejawab. Di pojokan kelas Mpok Nori bersiap rol depan. Gue mulai bingung, kenapa bu guru enggak nge-respond juga. Dan ini kenapa ada Mpok Nori di tulisan gue? Gue enggak tau harus ngapain. Gue coba perhatiin terus bu guru. Gue liat tatapan matanya, kosong. Matanya kosong! Kemudian mulutnya sedikit terbuka, dan perlahan dia mulai mengeluarkan air hidung. Dia terlihat seperti orang yang habis buang aer tapi lupa disiram. Gue bingung, ada apa ini? Gue mulai resah. Sepertinya roh ibu guru sedang meninggalkan jasadnya dan pergi entah kemana untuk sesaat. Gue melihat ke kanan dan kekiri. Anak-anak laen sepertinya enggak merasa ada keanehan dengan bu guru. Mereka semua asyik ngobrol, termasuk Bayu, Ukoy, dan Jabal. Gue mulai bergumam, apa jangan-jangan gue sedang bemimpi? Kenapa cuma gue yang merasakan keanehan ini? Apa jangan-jangan dalem mimpi gue ini gue bakal nemuin orang-orang aneh, termasuk bu guru ini, lalu setelah ini gue pulang kerumah, dan dijalan, ketika gue naek angkot, gue satu angkot dengan Nikita Willy yang kebetulan sedang jalan-jalan disela-sela waktu shotingnya. Lalu kebetulan dia lupa membawa dompet dan kebingungan untuk bayar angkot. Setelah itu dia meminta gue untuk bayarin dia, kemudian gue pura-pura menolak  dan sok jual mahal. Lalu Nikita Willy memohon-mohon dan berlutut dihadapan gue dengan muka melas dan teraniaya. Setelah itu dia bilang ke gue bahwa dia bersedia jadi pacar gue kalo gue bayarin dia. Ah, indahnya mimpi ini.
Tapi, buru-buru gue buyarkan semua gumaman gue tadi. Gue yakin ini bukan mimpi. Seperti kebanyakan orang dalam membuktikan bahwa ini mimpi atau bukan dengan mencubit dirinya, gue pun ingin membuktikan bahwa ini mimpi atau bukan. Kali ini gue enggak nyubit siapapun, tapi gue coba cari bata di luar kelas lalu gue jedotkan ke ke pala Bayu.
‘BUAKKK!!’ Bata dijedotkan.
‘Ah, SAKIT BEGOO!’ kata Bayu. Ternyata gue enggak sedang mimpi. Ini nyata! Oh, Nikita Willy, OHH!! Gue gagal jadi pacar dia!
‘Saya Nurul, Bu’ kata gue yang kedua kalinya untuk meyakinkan bahwa gue-lah yang dia panggil tadi!
Lalu keajaiban pun terjadi. Bu guru mulai sadar, tatapan kosongnya sudah hilang, mulutnya yang sedikit terbuka tadi mulai tertutup rapat, lalu dengan cekatan dia mengelap air hidungnya yang membanjiri bumi sedari tadi. Rohnya juga sudah kembali ke jasadnya dengan selamat.
Setelah sadar, lalu bu guru berkata, dan inilah yang gue maksud dengan ‘Kejadian Yang Maha Tragis’,
‘KAMU NURUL?’ Perasaan gue mulai enggak enak.
‘Iyah, Bu’ jawab gue
‘Oh, ibu kira “Nurul” itu perempuan’ Jlebb! Bener ajah, perasaan gue enggak enak. Sama enggak enaknya seperti rasa susu kambing yang dicampur minyak zaitun, lalu ditambah Teh Sisri kadaluarsa dan disajikan dengan Balsem Otot Geliga.
Saat itu gantian malah gue yang mengalami tatapan mata kosong, mulut melongo dan beberapakali sendawa dari bokong (oh, maksudnnya kentut). Suasana kelas jadi hening. Anak-anak melihat ke arah gue, mereka semua menatap gue dalem-dalem. Tatapan mereka sangat tajam, melebihi tajamnya tatapan Feni Rose ketika membawakan acara Silet. Gue yakin dibalik tatapan tajam mereka, terkandung perasaan tidak menerima dan tidak percaya bahwa cowok super cute kayak gue ini dikira perempuan. Terus terang saat itu perasaan gue down banget. Gue... dikira... perempuan. Menyakitkan!
Sejak saat itu dan seterusnya, ketika sesi perkenalan, gue selalu dikira perempuan. Semua guru yang baru pertama kali mengabsen  gue akan selalu bertanya-tanya: ‘Nurul? Ka... kamu Nurul? Ekspresi guru yang baru pertama kali memanggil nama gue itu pun macem-macem. Diantara mereka ada yang melongo sperti ibu Bahasa Indonesia tadi, ada juga yang mendadak kejang-kejang sambil mengeluarkan banyak busa dari mulutnya, ada yang mendadak struk ringan di tempat sehingga kepalanya miring-miring ke kiri dan tangannya bergetar-getar seperti DJ kesetrum, terakhir, ada juga yang langsung lari ngangkang pergi dari kelas dan meninggalkan jejak kuning basah dari roknya (oh, itu sepertinya dia cepirit).
Semua ekspresi guru yang memanggil nama gue memang aneh. Pernah suatu saat ada guru yang enggak menunjukkan ekspresi yang menyimpang ketika manggil nama gue. Guru tersebut hanya menampakan muka datar setelah memanggil nama gue, tapi keesokan harinya dia dikabarkan sakit karna susah buang aer. Hampir enggak ada yang selamat. Gue enggak habis pikir, seberapa bermasalah kah nama ‘Nurul’ bagi seorang laki-laki?
Bukan cuma guru, tapi temen-temen gue juga ada beberapa yang merasa aneh dangan nama gue. Sama, mereka juga menganggap Nurul adalah nama perempuan. Temen di kelas gue ada yang secara membabi-buta memanggil gue dengan sebutan ‘Mbak Nurul’, ‘Teh Nurul’, atau ‘Tante Nurul’. Gue cuman bisa senyum sambil bergumam dalem hati, ‘Ya Alloh, cepat panggil dia!’ Ada juga yang menyangka bahwa ‘Yoga’ adalah nama panggilan gue di siang hari dan ‘Nurul’ nama panggilan buat malam harinya. Tragis!
Gue sempet ngeri ngebayangin ketika suatu saat nanti nama gue terpampang di sebuah undangan pernikahan. Kemudian ketika itu, misal, di surat undangan tersebut ada tulisan seperti ini, ‘Mohon doa restunya atas pernikahkan anak kami Nurul Prayoga Abdillah dengan Dwi Febriana’. Gue takut yang ada malah nanti para undangan bilang, ‘Ini pengantin cowoknya yang mana, ya?’

***

‘Dulu bapak tuh suka solat di Mesjid Nurul’ kata ibu.
‘Emang, Bu?’ gue setengah enggak percaya.
‘Iya, mangkanya kamu dinamain Nurul’ kata ibu lagi.
‘Ohh’ Gue mengangguk.
Ternyata dibalik nama gue, nama yang ferminim itu, tersimpan cerita yang enggak gue sangka. Aktifitas solat yang dulu biasa bapak lakukan di Mesjid Nurul, yang menurut gue hal yang sederhana tapi sangat mulia itu, disisipkan ke dalem nama gue. Menurut gue ini keren. Mungkin orang-orang di luar sana, yang manggil gue ‘Mbak Nurul’, enggak tau bagaimana sesungguhnya arti nama gue. Yang mereka lakukan hanya tertawa ketika denger nama gue, dan kadang menjadikan nama gue lelucon ditengah-tengah obrolan mereka. Tapi, di balik  tawa mereka semua itu gue seneng, kok. Seneng karna gue tau makna nama gue. Ketika ada yang manggil, ‘Ehh, Mbak Nurul?’ yang gue lakukan cuma senyum dan bergumam, ’dia enggak tau ada apa dibalik nama gue! HAKHAKHAK’ ketawa sambil keselek.
Disisi lain, penamaan yang dilakukan ibu dan bapak terhadap gue memang berbeda dengan kebanyakan orang dalam menamai anaknya. Orang-orang diluar sana lebih memilih menamai anaknya sesuai bulan kelahirannya atau mungkin nama-nama yang agak kebarat-baratan, supaya terdengar keren! Berbeda dengan gue. Walaupun begitu, gue seneng dengan makna luar biasa yang terkandung dalam nama gue. ‘Nurul’ memang nama perempuan, dan sempet bikin gue malu sekaligus galau. Tapi, yang gue tau, setiap nama adalah doa bagi diri kita masing-masing.

25 comments:

  1. hi Nurul, salam kenal ya....
    aku follow blogmu nih... :)

    ReplyDelete
  2. Haha, oke.
    Eh 'Oga' aja ya, jgn 'Nurul', hehe.

    ReplyDelete
  3. ikannya udah gue kasih makan..

    salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  4. Nurul itu cewek kan sob??? hihi :D
    Salam kenal ya..skalian followw :)
    follback #eaaaah :D

    ReplyDelete
  5. haha lucu aku bacanya sob, apalagi yang namanya aleks susah boker wkwk, buat nurul salam kenal ya hehe

    ReplyDelete
  6. Hay,,, kunjungan perdan nih

    aku follow blogmu yah, follback yah sob.

    ReplyDelete
  7. hahaha namanya unik, panggil nurul aja ya? salam kenal kak Nurul :)

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. Argg, stres gue! Jgn nurul ya^^, masih troma >,<

      Delete
  9. salam,,nurul,,aku panggil apa,,kayanya lebih mudah panggil oga aja ya,,,hehe...
    saya juga orang sunda,,,damang? aishhhh...*sok kalem.
    aku udah follow ya...^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. panggil yoga ajah ^^
      alhmdulillah damang, hihi

      Delete
  10. haha..lucu..
    aku manggil yoga aja deh..biar kliatan macho..apa seh yura??
    soalnya,adek kos aku nurul..

    ReplyDelete
  11. aku jg ada temenn namanya nurul tapi cowo, dia jg nasibnya sama kya km hhee ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua nama itu bagus Menurut pemiliknya.


      Salam knal.
      Dituggu follbacknya yah :)

      Delete
  12. ini...rasanya saya kayak baca sejarah u_u

    ReplyDelete
    Replies
    1. untung cuma berasa baca sejarah, bukan berasa baca buku resep mkanan. fyuh! Mkash ya suda mampir ^_^

      Delete
  13. Hai kak nurul *pletak* XD
    eleuh-eleuh sundanese ieu teh? kumaha damang? *serasa tayangan tv lokal* XD

    aku juga punya temen.. dia cewe tapi dipanggil Ari, aku lupa nama kepanjangannya siapa :D
    kok bisa kebalik-balik gini yak, ada-ada aja XDD

    ReplyDelete

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter