Friday, 20 July 2012

Secret Admirer

Share it Please
Kalo denger kata secret admirer, jadi berasa gimana gitu: mules-mules tapi geli. Kenapa mules? Kenapa geli? Entahlah!
Gue pernah merasakan bagaimana menjadi seorang secret admirer. Saat itu gue masih SMP. Masih lugu, polos, dan belum mengerti apa itu Synthax, Phonology, Morphology, juga Miyabi. Sebenernya sampe sekarang juga gue masih bingung sih sama istilah-istilah barusan, kecuali yang terakhir tadi. Iya, Synthax, Phonology, dan Morphology adalah matakuliah di jurusan Pend. B. Inggris, jurusan dimana gue belajar sekarang.
Kembali lagi ke kepolosan gue. Saking polosnya gue saat itu, gue kadang suka dijadikan object pemalakan oleh oknum-oknum STM depan perum gue. Bahkan selain dijadikan sasaran oleh anak STM, gue juga sering dipalak oleh anak-anak MTs. Tragis!
Jadi, ceritanya seperti ini. Gue adalah anak SMP saat itu. Waktu itu belom jamannya bawa kendaraan pribadi ke sekolah, seperti: motor, mobil, odong-odong, dll. Palingan anak-anak SMP jaman gue membawa sepeda setiap berangkat sekolah.
Berhubung gue enggak punya sepeda yang layak saat itu, soalnya yang gue punya cuma sepeda roda tiga yang biasa dipake sama anak-anak balita, itu juga bekas gue waktu masih kecil dulu, jadi gue memutuskan untuk naek kendaraan umum tiap berangkat sekolah.
Gue tinggal di perumahan, karna memang di kota bekasi hampir seluruh lahannya dipergunakan untuk tempat perumahan. Gue tinggal di Perum Taman Tridaya Indah I. Tempatnya sih enggak seindah namanya. Di perum gue, enggak ada taman yang indah sama sekali seperti yang dikatakan di nama perumnya, palingan yang ada adalah rawa-rawa angker atau lahan-lahan yang enggak keurus sehingga dipennuhi prempuan-perempuan rumput-rumput liar nan binal.
Setiap gue berangkat sekolah, gue harus berjalan cukup jauh untuk menyetop angkot. Setiap gue berjalan untuk menggapai angkot, gue selalu melewati rute yang cukup panjang, melewati rumah-rumah yang berdempetan layaknya rumah-rumah perumahan. Nah, di rute itulah terdapat pos-pos jahanam anak-anak MTs dan STM yang biasa malak gue. Mereka memiliki tempat-tempat mangkal disitu.  Hal ini bener-bener menyedot adrinalin gue. Kadang gue harus mengatur waktu, jam-jam berapa sajakah pemalak biadab itu ada di posnya dan kapan mereka enggak ada di posnya. Sehingga jam berangkat dan pulang sekolah gue pun jadi terpatok oleh schedule mangkal mereka. Ini bener-bener mengganggu kehidupan  gue.
Suatu hari, gue pulang sekolah bareng temen-temen. Saat itu sore hari dan habis hujan. Karna hujan yang deras tadi siang, sehingga jalanan jadi becek, tapi ada ojeg.
Gue dan temen-temen berjalan berbarengan memasuki kawasan perum. Cara berjalan kita suda seperti anak-anak boyband jaman sekarang: berbaris beriringan, berjejer kesamping, dagu diangkat sedikit keatas, agak ngangkang, tangan kanan dilambai-lambaikan ke atas lalu tangan kiri di-klepek-klepekkan ke bawah. Loh, ini kenapa jadi mirip topeng monyet? Ya, pokoknya jalan kita keren banget.
Di tengah-tengah perjalanan keren gue dan temen-temen yang malah terlihat mirip topeng monyet yang sedang berjalan berjamaah tersebut, munculah sesosok anak STM dari semak-semak. Sebelumnya gue bingung, ini orang apa aligator? Muncul dari semak-semak dan sama-sama memiliki bagian yang maju di mukanya. Iyah, giginya sedikit tonggos.
Setelah itu dia teriak, ‘WOY, sini lu!’ Perasaan gue enggak enak. Kayaknya enggak mungkin sore-sore begini, becek pula tapi tetep ada ojeg, kemudian ada anak STM yang mau minta foto bareng atau setidaknya minta tanda tangan sama gue dan temen-temen yang sedang berjalan dengan kerennya tapi lebih terlihat mirip topeng monyet yang sedang jalan berjamaah ini. Pasti dia mau malak!
Gue dan anak-anak menoleh sedikit lalu mempercepat langkah. Semakin cepat kita melangkah, semakin kencang dia neriakin kita. ‘Woy, sini lo, ANJING!’ Wah, gue makin gemeter setelah dia meneriaki sambil bawa-bawa nama keluarganya. Atau jangan-jangan ‘anjing’ adalah kode isyarat rahasia dia. Jangan-jangan setelah dia bilang ‘anjing’, temen-temennya bermunculan. Ada yang muncul dari semak-semak seperti dia, ada yang muncul dari comberan, ada yang muncul dari dalem tanah, ada yang muncul dari rahim ibu-ibu tukang jamu yang gue temuai saat itu, kemudian setelah semua teman-temannya muncul, mereka mengepung kita dan merampas semua harta benda yang kita bawa saat itu. Hwuah, ngeri banget!
Gue dan temen-temen saling melirik, seolah-olah kita berbicara, ‘Gimana nih? Gue takut. Kita pasti lagi dipalak.’
Perasaan ketika dipalak ini bener-bener sama dengan ketika melihat setan: semakin kita takut, semakin kita enggak bisa lari. Kaki gue berat banget untuk melangkah, padahal penyakit kaki gajah gue suda sembuh.
Gue semakin mempercepat langkah. Semakin cepat... semakin cepat. Dan lari! Akhirnya bisa juga lari.
Tapi akhirnya takdir berkata lain, kita kekejar dan bener-bener dipalak. Uang seribu lima ratus sisa jajan gue yang sengaja gue simpen buat ditabung beli kaset Mp3 Ungu pun raib oleh pemalak bedebah itu. Begitu juga nasib temen-temen gue. Mereka kehilangan uang, barang-barang berharga, dan juga kesucian mereka. Eh, yang terakhir itu boong, deng.
Dampak dari pemalakaan tadi adalah kita jadi galau. Ada yang melampiaskan kegalauannya langsung di tempat dengan berguling-guling, ada yang langsung rol depan tiga kali dan rol belakang dua kali, dan ada juga yang ngubek-ngubek comberan dengan tampang nanar. Iyah, temen-temen gue kalo lagi galau memang mirip dengan orang gila. Tapi gue tetep stay cool. Gue enggak mau menampakan sikap galau yang enggak jelas kayak mereka, karna itu enggak keren banget. Gue coba nasehatin temen-temen, ‘Udah, sabar! Ini cobaan. Mungkin kita kurang beramal.’
Sampe di rumah, gue langsung nyakar-nyakar pohon cabe dilanjutkan dengan berguling-guling sebagai pelampiasan kegalauan gue. Hilang sudah kewibawaan gue seperti ketika menasehati temen-temen tadi. Gue kesel! Gue itu jajan sehari cuma dua rebu. Terus siangnya gue bela-belain cuma jajan gorengan dua biji seharga gopek. Sisanya, seribu maratus, gue simpen buat nyicil beli kaset Mp3. Eh, yang ada malah raib. Koplok!
Esok harinya gue mencari rute laen tiap berangkat maupun pulang sekolah, sekaligus menghindari pertemuan dengan anak-anak STM maupun MTs jahanam itu!

***

Sebentar, gue agak bingung, nih. Postingan ini kan judulnya Secret Admirer,  tapi kenapa malah membahas pemalakan begini, sih? Du-duh, gue sudah melenceng ke arah yang bengkok.
Well, okeh. Kita bahas secret admirer, yah.
Ada yang bilang masa SMP adalah masa yang paling indah. Temen gue juga bilang masa SMP itu indah karna di masa inilah kita mengalami transisi dari masa bocah ke masa remaja.
Percaya atau enggak, saat SMP gue masih sering maen kejar-kejaran, cubit-cubitan, dan jambak-jambakan. Ini kenapa yang jambak-jambakannya diceritain segala, sih? Yah, pokoknya bener-bener kayak bocah banget. Antara gue yang SMP dengan siswa PAUD itu bedanya tipis.
Dan yang ngebuat anak SMP berasa remaja adalah karna di saat ini juga mulai ada perasaan aneh di dalem diri. Persasaan suka dengan lawan jenis. Perasaan cinta, C.I.N.T.A = CINTA!! Ini yang ngebuat masa-masa SMP jadi berasa manis, enggak monoton dan lebih berwarna.

***

Saat kenaikan kelas tiba, gue seneng banget. Itu artinya gue suda lepas dari kelas satu, dari masa-masa jahanam nan kelam, dan gue juga resmi jadi kakak kelas. Kenapa gue sebut kelas satu adalah masa jahanam? Ya, sebagaimana lo tau, kelas satu sering kali dijadikan sasaran penindasan oleh kakak kelas.  Kelas satu selalu jadi korban pemalakan, korban pemukulan, korban pemaksaan, korban perasaan, korban selingkuhan, korban sepikan dan korban pelampiasan. Stop-stop! Ini kenapa jadi ngawur begini? Dan menurut gue kelas dua adalah posisi yang strategis: kita punya adek kelas dan juga kakak kelas.
Tapi, sebenernya kalo dipikir-pikir, kok standar kesenengan gue rendah banget ya: sekedar lulus dari kelas satu dan jadi kakak kelas. Biasanya kebanyakan orang seneng saat kenaikan kelas karna dia dapet nilai rapot bagus, ranking bagus, dan mungkin juga bisa sekelas dengan orang yang dia suka di kelas dua nanti.
Selain perasaan seneng, gue juga diliputi rasa resah. Resah karna di ritual acak kelas nanti gue takut satu kelas dengan Ara. Ritual acak kelas tuh begini: setiap lo naek kelas, lo bakal ditempatkan di kelas yang berbeda dari kelas lo sebelumnya. Misalnya, lo kelas 7.2, setelah mengalami ritual acak kelas, lo belum tentu kedapetan kelas 8.2. Lo dan temen-temen kelas 7.2 lo bakal di-random dan dimasukin ke kelas delapan yang berbeda. Itulah yang gue takutin. Gue khawatir semesta mempertemukan gue dan Ara dalem satu kelas di kelas delapan nanti. Gue merasa suda mengalami hal sulit dengan dia di kelas tujuh. Sejak saat itu gue jadi canggung setiap bertemu dengan dia. Gue pernah suka, sayang, dan peduli banget sama dia. Tapi karna suatu hal, gue tinggalin semuanya. Dan menurut gue semuanya bakal makin ribet kalo seandainnya gue satu kelas dengan dia.
***

Hari pertama gue di kelas delapan sangatlah aneh. Gue bertemu banyak orang baru yang saat kelas tujuh dulu enggak gue kenal. Mereka berasal dari kelas yang berbeda. Watak dan penampilan mereka macem-macem. Ada yang kalem, ada yang bringas, ada yang pendek, ada yang tinggi jangkung tampak tua ditambah tai lalet lebar berbulu di lehernya, namanya Yono, dan banyak lagi. Yono termasuk pentolan di kelas gue, lho. 
Gue kebetulan sekelas juga dengan beberapa temen sekelas gue ketika kelas tujuh dulu. Dan, men, lo tau enggak? Akhirnya gue enggak sekelas dengan Ara. Thanks God!
 Saat itu gue coba ngelupain Ara. Gue harus bisa lepas dari semua tentang dia. Gue anggep semua yang uda berlalu antara gue dan dia adalah hal yang enggak pernah terjadi dalem hidup gue.

***

Saat itu ekskul gue adalah PMR. Jangan ketawa! Iya gue tau, itu memang ekskul-nya cewek-cewek lemah-gemulai yang memiliki spesifikasi khusus untuk menangani anak-anak yang hobby kejang-kejang dan kesurupan mendadak tiap menjelang upacara bendera. Dan memang sekiranya ada cowok yang gabung di ekskul itu, bisa dipastikan dia adalah sosok cowok yang cassing-nya seperti anak boyband jaman sekarang: kulit putih kayak kapur barus, rambut lurus menyerupai bulu idung Badak Irian, dan ponny kemana-mana. Duh, gue sama sekali enggak mau disamakan dengan mereka! Gue terpaksa gabung PMR karna enggak ada ekskul lain kecuali Pramuka dan Paskibra. Sekolah gue memang menyedihkan. Seandainya ada ekskul debus, mungkin gue suda daftar paling pertama! Ya, karna di dalem diri gue sesungguhnya bersemayam talenta debus tingkat tinggi, seperti: makan beling, bakar bulu ketek, tiduran di rel kereta, dan makan empal gentong sampe mangkok-mangkoknya!
Ekskul PMR tuh kerjaannya teori mulu! Latihannya tiap hari minggu, terus biasanya dengerin senior ceramah, kalo enggak, ya nyatet masalah ke-PMR-an, seperti: sejarah berdirinya, bagaimana perkembangannnya, siapa saja tokohnya, dan segala tetek gede bengeknya.
Awal mula gue mengalami secret admirer adalah datangnya anak baru disekolah, lalu dia gabung ekskul PMR. Namanya Bela. Dia sosok perempuan yang feminim banget. Cara berseragamnya sopan, enggak bertingkah, tapi tetep keliatan cool. Gue paling demen nih sama model-model kayak begini.  Dia sepertinya keturunan batak, soalnya dia punya mata yang sipit dan kulit yang putih bening, sampe silau gue ngeliatnya.
Bela memang cakep, cool, dan ngegemesin banget. Tapi, di kelas gue ada juga cewek yang enggak kalah cakep dari Bela, sebut aja Yuditia. Nah, Yuditia ini lah yang gue taksir secara diam-diam.
Lo bingungkan? Gue juga! Maksutnya nyeritain Bela tuh apa, sih?

***

Yuditia adalah teman sekelas gue di kelas delapan. Tapi sebelumnya, supaya simple dan enggak kepanjangan nyebut namanya, kita persingkat aja jadi ‘Yudit’.
Di mata gue, Yudit memang mencolok dan berbeda dengan yang lain. Kesan yang gue dapet ketika meliat dia memang biasa aja.
Awal kedekatan gue dengan Yudit adalah bermula saat gue satu kelompok dengan dia dalam mengerjakan tugas sejarah.
Ceritanya seperti ini.
Saat itu guru sejarah memberikan tugas berupa presentasi. Tugas presentasinya adalah pembuatan makalah seputar sejarah budaya, lalu harus dipresentasikan di depan kelas. Makalah itu dibuat per-kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5-7orang.
Setelah diperintahkan membuat kelompok, gue bingung mau berkelompok dengan siapa. Gue belum terlalu kenal dengan anak-anak satu kelas. Tapi, mendadak keajaiban datang. Entah karna habis ujan gede atau karna banyak yang sedang sunatan masal di kampung gue, tiba-tiba temennya Yudit ngajak gue gabung ke kelompok dia. Yudit termasuk di dalamnya. Saat itu temennya Yudit bilang ke gue,
‘Ga, uda dapet kelompok?’ kata temennya Yudit.
‘Belom’ jawab gue melas
‘Oh, bareng aja, kita kurang satu binatang orang lagi’ kata temennya Yudit lagi.
Saat  itu gue menampakkan ekspresi cool dan sok kece dengan bilang, ‘Oh, yaudah!’ padahal dalem hati gue seneng banget. Ternyata masih ada orang berjiwa mulia di kelas yang ngajakin sekelompok dengan gue. Jadi, gue enggak usah susah-payah memperlihatkan kesana-kemari muka melas gue yang malah terlihat mirip orang sedang muntaber ini, terus berpura-pura kesurupan biar ada orang yang kesian dan sudi mungut gue untuk dijadikan anggota kelompoknya.
Akhirnya gue satu  kelompok dengan Yudit dan juga  teman-temannya. Dalem kelompok tersebut gue banyak share dengan Yudit, juga dengan teman-temannya mengenai bahan yang akan didiskusikan nanti.  Mau enggak mau gue jadi banyak ngobrol dengan Yudit. Dari situ gue perlahan perhatikan sikapnya, dari bagaimana cara bicaranya, suaranya, ekspresinya, sampai ketawanya juga. Dari semuanya itu menimbulkan kesan pertama gue tentang Yudit. Gue mulai seneng dengan sifatnya.
Besoknya, gue berusaha coba ngedeketin Yudit. Gue suka curi-curi waktu buat ngobrol dengan dia dan temen-temennya. Tiap waktu istirahat, gue suka maen ke bangkunya sekedar iseng nyapa dan basa-basi. Tapi kalo ada kesempatan buat ngobrol, ya langsung gue manfaatkan. Terkadang ditengah-tengah obrolan, gue sengaja suka menyisipkan obrolan-obrolan konyol dan kadang juga bertingkah konyol. Sesekali Yudit senyum dan ketawa karna  kekonyolan gue. Wah, kalo suda begini rasanya senenggg bangettt! Rasanya seperti punya kebanggaan tersendiri ketika bisa bikin Yudit senyum, apalagi ampe ketawa. Itu adalah moment yang sulit dilupakan, bahkan kadang suka keingetan terus ampe beberapa hari.
Ya, memang enggak bisa disangkal lagi pribadi Yudit yang kece abis. Dari mulai suara khasnya yang tipis, jernih, dan membekas di telinga, sampe senyumnya yang nenangin banget,
semua itu bikin gue betah memerhatikan dia lama-lama. Wah... gue pasti bakal happy banget kalo bisa jadi pacarnya. Tapi, yang jadi masalahnya adalah apakah dia bisa bertahan hidup atau enggak ketika jadi pacar gue nanti. Layaknya peserta [Masih] Dunia Lain, peserta yang enggak kuat dalam uji nyali akan melambaikan tangannya ke kamera. Begitu juga yang terjadi dengan Yudit dalam uji bertahan hidup jadi pacar gue nanti. Ketika Rudy Kawilarang bilang, ‘Gong sudah berbunyi, itu artinya uji bertahan hidup akan segera dimulai. Apakah anda siap membahayakan hidup anda dengan menjadi pacarnya?’ setelah itu mungkin Yudit bakal teriak, ‘Tidaakkk...!!’ sambil melambai-lambaikan tangannya secara ganas dan membabibuta.
Pupus sudah angan-angan gue untuk menjadi pacarnya karna bayangan yang sangat mengerikan tadi.
Gue pun jadi berpikir: apa yang dimiliki Yudit enggak berbanding lurus dengan yang gue punya. Yudit itu sangat mempesona, kece, dan cantik. Sedangkan gue, jarang sekali keliatan ganteng. Sekalinya gue terlihat ganteng juga itu cuma ketika diliat dari balik kaca riben doang, dan itu juga kemungkinan besar si pelihat sedang terkena iritasi mata akut. Bahkan ada yang bilang bahwa kegantengan gue itu cuma mitos.

***

Jadi secret admirer  memang enggak selalu menyenangkan. Kata orang, hal yang paling nyesek dalam kegiatan mengagumi diam-diam adalah kenyataan bahwa kita bisa cemburu setengah mampus tapi kita enggak bisa protes sama sekali.
Hal tersebut bener-bener gue rasakan.
Suatu hari gue melihat Yudit sedang makan di kantin bersama dengan seorang cowok. Kebetulan gue juga sedang jajan bareng temen saat itu dan enggak sengaja ngeliat mereka. Dalam situasi seperti ini temen gue malah bilang, ‘Ciyee, Yudit jajan bareng tuh!’ sambil ngelirik-lirik gue.
‘Haha, iya’ gue ketawa garing.
‘Gimana perasaan lu, Yog?’ temen gue mulai ngeledek.
‘Halah, biasa!’ gue sambil nahan nafas.
‘Pasti cemburu yaa!’ temen gue ngeledek lagi.
‘Enggak!’ gue sedikit emosi.
‘Ah, BOONG yahh!’ temen gue ngeledek parah.
‘KAGAK!’ gue emosi banget.
‘Boong pasti, CUPU LU!’ sumpah, ini anak ngeledek maksimal! Pengen rasanya gue celupin pala temen gue ini ke aer rebusan Indomie di kantin saat itu, biar diem.
 Gue coba perhatikan mereka berdua, dan damn it! Sepertinya gue kenal dengan si cowok. Gue penasaran, akhirnya gue coba untuk menyelidiki. Perlahan-lahan gue mendekati mereka. Karna takut ketauan, gue pun membungkuk, kemudian merangkak lewat bawah. Gue merangkak melewati kolong-kolong meja kantin untuk mendekati mereka. Saat itu kantin lumayan penuh dengan anak-anak yang sedang makan sepulang sekolah. Karna kantin padat, sehingga gue merangkak melewati meja-meja yang sedang dipakai makan saat itu. Sesekali terdengar suara teriakan pelan dari anak cewek yang kaget karna gue melewati kolong meja dan kolong kakinya. Selain teriakan, terdengar juga jeritan-jeritan pelan, desahan-desahan, dan... Stop stop! Mulai ngawur. Dan akhirnya gue tau, cowok itu adalah temen gue yang laen. Gue enggak satu kelas dengan dia dan juga enggak begitu deket, tapi kita saling kenal dan suka ngobrol bareng. Sosoknya kurus, enggak begitu tinggi, dan enggak seganteng dan sekekar badan gue tentunya. Bisa dibayangkan sodara-sodara, gantengnya gue aja masih mitos, apalagi dia?
Yang paling gue inget dari cowok itu adalah giginya. Ya, giginya enggak rapih dan agak abstrak. Bahkan, terakhir gue inget ada sebagian dari giginya yang memiliki beberapa cabang dan sedikit menonjol keluar, sedangkan gigi bagian dalemnya ada yang berbentuk melingkar mirip tanduk domba garut dan cenderung kriting gitu. Ini orang apa siluman, sih? Karna giginya yang abstrak dan cenderung kriting, maka kita sebut saja cowok itu ‘Si Kriting’.
Di kantin, mereka duduk bersebelahan, kemudian mereka memesan mie rebus. Setelah itu Si Kriting mencoba mengajak ngobrol Yudit, kemudian Yudit tertawa pelan. Ah, gue kesel!
Setelah tawa Yudit reda, mereka kembali ngobrol biasa. Mereka terlihat akrab sekali. Saking akrabnya sampai-sampai mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Keakraban mereka perlahan berubah menjadi kemesraan. Ya, walaupun gue tau mereka bukan sepasang kekasih, tapi, gue kesel banget ngeliatnya. Apalagi setelah mie rebus yang mereka pesen dateng, mereka jadi tambah seru ngobrol dan Yudit juga makin sering ketawa. Kampret! Ini pemandangan paling biadab yang pernah gue saksikan saat itu. Pengen rasanya gue culik Si Kriting, lalu gue iket kaki dan tangannya sambil gue sumpel mulutnya pake sempak gue yang belom dicuci, biar dia merasakan sensasi asinnya, kemudian gue geletakkan dia di rel kereta. Sumpah, gue cemburu maksimal saat itu! Napas gue jadi berat. Dada gue berasa sedang dililit kabel listrik PLN: sesak, sakit, dan enggak enak.

***

Pada hakikatnya mansuia memang enggak pernah lepas dari kekurangan. Begitu juga dengan Yudit. Dibalik semua keindahan yang dia punya dan juga dibalik pribadi Yudit yang bisa bikin gue cemburu setengah mampus, ternyata tersimpan sifat Yudit yang enggak gue senengin.
Setelah cukup lama gue mengenal Yudit, munculah sifat-sifat Yudit yang pada awal gue bertemu belum begitu nampak. Terkadang Yudit bersikap cuek, dingin, dan enggak fokus dengan suasana sekitar. Pernah suatu saat gue sedang ngobrol bareng dengan Yudit dan juga temen-temen laennya, kemudian Yudit menampakan sikap yang berbeda. Gue perhatikan dia, dan yang gue liat saat itu Yudit sesekali enggak menangkap obrolan, dan saat gue alihkan pembicaraan ke Yudit, yang ada malah dia enggak begitu nanggepin. Hal itu sering banget terulang, juga diiringi sikap cuek dan dinginnya.
Setelah muncul sifat Yudit yang seperti itu, lama-kelamaan gue mulai merasa enggak nyaman. Ujung-ujungnya berada di dekat Yudit malah jadi enggak senyaman ketika gue dengan temen-temen yang laen.
Tapi anehnya, gue masih aja kagum sama dia. Dengan segala kekurangan dan kelebihan Yudit, gue tetep kagum sama dia. Gue tau, gue enggak punya hak sama sekali tentang Yudit. Gue enggak bisa berkomentar tentang sikapnya yang enggak gue seneng itu.
Yudit memang luar biasa buat gue, tapi, gue sadar kok bahwa gue nothing di mata dia. Gue berasa suka dengan seseorang yang enggak menyadari keberadaan gue. Ini memang sulit. Semua ini cepat atau lambat pasti bakal berlalu, begitu juga Yudit. Gue sangat senang bisa mengenal Yudit di masa SMP gue. Ya, walaupun hanya sekedar kenal dan berteman, enggak lebih. Dan yang jelas, dia adalah salah satu cerita dalem hidup gue. Dia adalah arsip yang bakal gue simpen rapih di laci-laci memory kehidupan gue.
Dan pada akhirnya gue pun cukup berdiri disini, memandangi dia dari jauh, menikmati senyumnya dari sudut sini, sederhana, sama seperti yang kebanyakan Secret Admirer lakukan.

6 comments:

  1. waaa postingannya panjang beet..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Iya, panjang. Tapi pas baca jadi berasa pendek kok. Hehe

      Delete
  2. Hahaa~ jd keinget masa SMP nihh setelah baca postingan lu bray !gue jg pernah rasain jd secret admirer rasa nya lebih nyesek dr cinta di tolak (!!O_o
    di tunggu postingan selanjutnya bray~ ;))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Iya, memang sesak sekali. Hihi!

      Delete
  3. kayakya lu sekelas ama gue dah prop 7.7 bukan 7.2 -____-"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Iyee, kita emang sekelas, 7.7. Tadi 7.2 tuh cuma perumpamaan doang, Prop. Cuma misal!

      Delete

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter